Ini Kunci Penjualan untuk Menarik Simpati Generasi Z

Ilustrasi - thetoc.gr
16 Maret 2021 14:27 WIB Nirmala Aninda Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Milenial mungkin salah satu kelompok usia dengan konsumen yang paling aktif, tetapi masa depan brand sedang dibentuk oleh Generasi Z.

Mereka adalah individu-individu yang lahir setelah tahun 1994. Mereka berbeda dengan Generasi Y karena mereka tidak dibiarkan sendiri dalam keinginan untuk mengubah dunia dan tidak seperti orang tua mereka, Generasi X yang terkenal, mereka berada di tengah-tengah antara idealisme dan materialisme.

Dilansir melalui Entrepreneur, Generasi Z adalah generasi yang sepenuhnya digital.

BACA JUGA : Hasil Survei di Jogja & Jakarta, Generasi Z Paling Banyak Tak

Mereka dapat mengelola lebih dari satu layar dalam satu waktu, mereka belajar secara otodidak dan belajar dari internet, mereka kreatif dan karena mereka tumbuh di lingkungan ekonomi yang sulit - seperti krisis keuangan tahun 2008-, mereka biasanya mandiri.

"Generasi Z adalah orang-orang muda yang berorientasi pada tujuan (berprestasi), mereka menganggap hidup mereka sebagai level (karena mereka tumbuh dengan video game) dan mereka cenderung sangat reaktif terhadap dunia mereka,” kata Jennifer Medina, Kepala Inovasi dan Intelijen dari badan penelitian Big Foot.

Tidak seperti milenial yang menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, Gen Z suka memanfaatkan berbagai platform untuk menghasilkan konten mereka sendiri. Dan mereka sepenuhnya responsif terhadap strategi pemasaran digital.

BACA JUGA : Pakar: Generasi Z Rentan Kesepian Saat Pandemi 

Kelompok yang merupakan kelompok 25,9 persen dari populasi dunia ini, masih belum memiliki daya beli yang besar, tetapi brand harus memperhatikannya untuk memastikan ketahanan di pasar.

Para ahli membuat daftar 4 tip bagi brand untuk menjalin hubungan dengan generasi ini:

1. Pelajari "bahasa Z"

Anak muda dari generasi ini lebih konseptual, menggunakan lebih sedikit kata, lebih sintetis dan berbasis pada visual yang kuat. Anda harus bereksperimen dengan platform baru seperti TikTok atau Instagram.

2. Bangun brand yang berorientasi pada Gen Z

Generasi Z tidak tertarik pada merek yang hanya ingin menonjolkan identitasnya, mereka tidak ingin perusahaan yang berusaha menjadi protagonis.

Sebaliknya, mereka ingin perusahaan membantu mereka memecahkan masalah atau membangun cerita mereka sendiri. Mereka sangat menghargai alat-alat seperti aplikasi (itulah sebabnya mereka juga disebut Generasi Aplikasi) dan mereka ingin bisnis menjadi teman mereka.

3. Pahami bahwa ada "mata uang" lainnya

Influence atau tingkat pengaruh yang dapat mereka miliki di media sosial sangat penting bagi Gen Z, dikenal sebagai mata uang sosial. Brand yang ingin menjangkau Gen Z perlu membantu mereka mempertahankan kekuatan sosial dengan penjualan dan aplikasi yang membantu mereka menonjol.

4. Bangun hubungan yang erat

Generasi Z paham bahwa menawarkan produk saja tidak cukup karena mereka tahu brand lain juga melakukan hal yang sama.

Mereka mencari pengalaman berbelanja yang tak terlupakan yang membantu mereka melakukan hal lain. Misalnya, sepatu Tomsyang memenangkan hati generasi ini dengan menawarkan alas kaki untuk orang-orang yang berada dalam kondisi sulit untuk setiap pembelian.

Gen Z sangat peka terhadap apa yang terjadi di dunia mereka, tetapi mereka ingin menghasilkan perubahan dengan cara yang praktis.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia