Oravax Bakal Ujicoba Vaksin Covid-19 dalam Bentuk Pil

Ilustrasi. - Reuters
23 Maret 2021 12:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perusahaan pembuat pil vaksin, Oravax, mengumumkan rencananya untuk memulai uji klinis vaksin virus Corona (Covid-19) dalam bentuk pil, tahap pertama pada manusia mulai Juni.

Langkah tersebut adalah tahap paling awal dari pengembangan vaksin. Tidak ada jaminan keberhasilan dan meskipun berhasil, mungkin perlu waktu satu tahun atau lebih sebelum pil vaksin diizinkan untuk digunakan.

Sebagai perbandingan, vaksin Moderna dan Pfizer memulai uji coba pertama pada manusia masing-masing pada Maret dan Mei 2020.

Baca juga: Hari Ini, Perpanjangan PPKM Mikro Resmi Berlaku di 15 Provinsi

Oravax merupakan usaha patungan oleh dua firma, yaitu perusahaan Israel-Amerika Oramed dan perusahaan India Premas Biotech.

Vaksin oral adalah salah satu pilihan yang sedang dipertimbangkan untuk vaksin generasi kedua, yang dirancang agar lebih berskala, lebih mudah diberikan, dan lebih sederhana untuk didistribusikan.

"Vaksin oral berpotensi untuk memungkinkan seseorang mengambil sendiri vaksin itu di rumah," kata Nadav Kidron, CEO Oramed dalam pernyataan pada rilis, dikutip dari Science Alert, Selasa (23/3/2021).

Menurut laporan Jerusalem Post, vaksin tersebut dapat didistribusikan dalam lemari es normal dan disimpan pada suhu kamar. Itu membuatnya lebih mudah secara logistik untuk mendapatkan vaksin di mana pun di seluruh dunia.

Baca juga: India Suntik Vaksin Corona 2 Juta Per Hari, Indonesia Hanya 36.000

Namun, pembuatan vaksin Covid-19 oral membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi.

"Kami membutuhkan studi yang benar untuk membuktikan manfaat vaksin oral. Tapi vaksin itu mungkin juga bermanfaat pada orang yang sangat fobia jarum dan mungkin lebih mudah serta lebih cepat untuk diberikan," kata Paul Hunter, profesor kedokteran di University of East Anglia.

Vaksin oral juga dapat menawarkan manfaat lain dibandingkan vaksin yang disuntikan di lengan.

Menurut Hunter, vaksin sistemik (suntikan di lengan) umumnya sangat baik dalam mencegah penyakit yang parah, tetapi seringkali tidak baik dalam mencegah infeksi.

Mengingat infeksi Covid-19 pertama kali terjadi di hidung dan tenggorokan, vaksin yang difokuskan pada area tersebut akan membantu menghentikan infeksi sebelum berkembang menjadi lebih buruk.

Data tentang vaksin Oravax belum dipublikasikan hingga saat ini. Meski hasil penelitian pada hewan sangat menjanjikan, tetapi hasilnya belum tentu sama pada manusia.

Jenis lain dari vaksin generasi kedua juga sedang diselidiki, seperti vaksin dengan semprotan melalui hidung.

Ilmuwan juga mempelajari apakah vaksin dapat digunakan melalui patch.

Profesor Sarah Gilbert, ilmuwan utama pengembangan vaksin Oxford atau AstraZeneca, mengatakan bahwa Oxford sedang menilai kemungkinan mengembangkan tablet dan vaksin oral yang disemprotkan di hidung.

Saat ini, Universitas Oxford menolak untuk menjawab pertanyaan tentang vaksin oral sebelum dipublikasikan.

Perusahaan lain, ImmunityBio, juga sedang menjalankan uji klinis Fase 1 dari versi vaksin oral. Namun, ini akan digunakan sebagai dosis penguat untuk vaksin intramuskular.

Sejauh ini, satu-satunya tes vaksin Covid-19 oral yang dilakukan pada manusia belum berhasil.

Sumber : Suara.com