Aplikasi Edit Tubuh di TikTok Dapat Memicu Gangguan Makan

Logo TikTok. Para remaja dan perempuan muda belum memahami sepenuhnya barang tersebut. - Bloomberg/Shiho Fukada
29 Maret 2021 22:37 WIB Laurensia Felise Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Beberapa orang yang mengampanyekan pencegahan gangguan makan mengatakan bahwa aplikasi yang mampu mengedit bentuk tubuh yang diiklankan di media sosial TikTok dan Instagram menimbulkan kekhawatiran munculnya gangguan makan pada orang muda.

Dikutip dari BBC, Senin (29/03/2021), pengiklan dalam dua media sosial itu menunjukkan bagaimana aplikasi tersebut bisa digunakan untuk mengedit beberapa bagian tubuh, termasuk membuat pinggang lebih kecil dan menambahkan otot.

Anggota organisasi penggalangan dana pencegahan gangguan makan mengatakan bahwa perusahaan teknologi harus mempertimbangkan dampak dari adanya iklan dalam aplikasinya bagi orang-orang yang rentan terpicu iklan tersebut.

BACA JUGA : Viral Warung Makan di Jogja Harga Tak Sampai Rp10.000

Pihak media sosial menanggapi laporan tersebut dengan mengatakan  aplikasi tersebut tidak melanggar panduan periklanan, adapun pihak TikTok menyatakan akan meninjau ulang kebijakannya dengan meningkatkan kerangka kerja untuk mendukung lingkungan yang ramah bentuk tubuh apapun.

Sebelumnya berbagai platform media sosial yang populer di kalangan remaja telah melakukan pemblokiran pada aplikasi khusus puasa dan suplemen penurun berat badan pada tahun lalu.

Menurut aktivis di bidang gangguan makan, Hope Virgo, perusahaan media sosial seharusnya bertanggung jawab untuk menghentikan pesan-pesan yang tidak sehat dan tidak membantu.

"Selama tahun lalu, kami melihat peningkatan pesat dalam jumlah orang-orang yang mengidap gangguan makan, dan ketika gangguan makan tidak sepenuhnya disebabkan karena gambaran tubuh buruk, kami tahu ada keterkaitan intrinsik. Fakta bahwa Instagram dan TikTok sedang mengiklankan aplikasi pengubah bentuk badan akan semakin meningkatkan epidemik gangguna makan," jelasnya.

Setidaknya melalui statistik dari organisasi penggalangan dana untuk pencegahan gangguan makan, Seed, menunjukkan adanya 68 persen peningkatan bantuan di kalangan anak-anak dan remaja berusia 10-19 tahun sejak masa pandemi.

BACA JUGA : 10 Video Tiktok Paling Viral Sepanjang 2020

Jurnalis kesehatan sekaligus penyintas gangguan makan, Danae Mercer, memperkuat bukti bahwa aplikasi yang bisa mengedit bentuk tubuh bisa memicu gangguan makan.

"Aplikasi tersebut bisa membuat saya lebih kurus dan lebih langsing, bahkan dibanding ketika saya terus berolahraga setiap waktu. Mereka mampu mengurangi pori-pori saya dengan cara yang tidak mungkin dilakukan secara alami. Mereka membuat 'saya', yang secara cukup simpel, tidak mungkin dicapai dan mereka cukup menggunakan klik sebuah tombol untuk melakukannya," tuturnya.

Ia menambahkan dampak teknologi seperti itu sangat besar dan sejujurnya ia merasa tidak akan melihat hasil keseluruhannya selama bertahun-tahun.Tidak hanya itu, Mercer juga menyatakan aplikasi tersebut bisa ditargetkan secara khusus bagi remaja yang sangat rentan.

"Para remaja dan perempuan muda belum memahami sepenuhnya barang tersebut. Di saat yang sama kita tidak menyetujui produk penurun berat badan untuk dipasarkan kepada anak-anak, kita perlu mendorong regulasi baru terkait dengan aplikasi apa saja yang bisa menyasar ke audiens rentan, terutama aplikasi yang bisa mengedit bentuk tubuh," tambahnya.

Aplikasi ini diketahui merupakan aplikasi gratis yang tersedia baik di Apple Store maupun Play Store yang bisa memberikan perubahan bentuk tubuh. Pengguna bisa mengedit foto atau video, mengubah ukuran dan bentuk tubuh serta wajah, memuluskan kulit, dan meningkatkan otot.

Kritik akan adanya aplikasi seperti ini tidak hanya datang dari berbagai individu, tetapi juga dari organisasi penggalangan dana seperti Seed dan Beat.

Manager organisasi Seed, Gemma Oaten, berpendapat bahwa kemunculan aplikasi ini bisa memberikan beban bagi pengguna di kehidupan nyata terutama ketika mereka tidak bisa lagi bersembunyi di balik layar gawai atau aplikasi.

Ia juga mengkritik perusahaan media yang seharusnya menjalankan tugas perawatan kesehatan dan memasang rambu peringatan pada iklan apapun yang bisa merusak citra tubuh.

BACA JUGA : Viral Bangjo Kota Jogja Ada Banyak TV Menyala, Warganet

"Aplikasi pengubah bentuk tubuh yang mendukung stigmatisasi bobot tubuh atau mempromosikan idealisme dari [bentuk tubuh] kurus, bisa menyebabkan penderitaan bagi orang-orang yang mengidap penyakit gangguan makan atau rentan terhadap penyakit tersebut," tambah perwakilan dari organisasi Beat.

Bahkan direktur bagian urusan eksternal Beat, Tom Quinn, menegaskan perlunya pertimbangan dari pembuat aplikasi terhadap apa yang mereka gambarkan bagi orang-orang yang rentan.

Ia juga menyemangati orang-orang dengan masalah gangguan apapun untuk sebisa mungkin melaporkan konten yang bisa memicu dirinya dan mempertimbangkan untuk mundur serta fokus pada sumber-sumber yang lebih mendukung dan positif.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia