Alergi Susu Sapi Bisa Berdampak Serius pada Anak

Anak-anak minum susu. Alergi susu sapi adalah respons sistem imun yang berlebihan pada seorang anak terhadap protein susu sapi yang tidak berbahaya bagi orang lain. - Unicef
01 April 2021 07:17 WIB Desyinta Nuraini Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Tak sedikit balita atau anak Indonesia yang mengalami alergi terhadap susu sapi. Angka kejadiannya pun meningkat dari tahun ke tahun.

Konsultan Alergi dan Imunologi Anak Prof. Budi Setiabudiawan mengatakan protein susu sapi merupakan penyebab alergi terbesar kedua pada anak, setelah telur. Secara nasional, 0,5%-7,5% anak alergi terhadap susu sapi.

"Data di RS Cipto Mangunkusumo, kejadian alergi susu sapi sebesar 23,8 persen," ujarnya dalam Festival Soya Generasi Maju, Rabu (31/3/2021).

Dia menjelaskan alergi susu sapi adalah respons sistem imun yang berlebihan pada seorang anak terhadap protein susu sapi yang tidak berbahaya bagi orang lain. Penting bagi orang tua melakukan diagnosa agar anak dapat ditata-laksana dengan baik karena dampaknya cukup merugikan.

Budi menjelaskan ada 4 dampak yang akan dihadapi apabila anak terlambat untuk didiagnosa alergi terhadap susu sapi.

1. Kesehatan

Anak yang alergi susu sapi menghadapi peningkatan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas hipertensi, hingga sakit jantung.

2. Gangguan tumbuh kembang anak

Anak dengan alergi mengalami keterlambatan pertumbuhan, karena berhubungan dengan jenis dan durasi pantang makanan.

Risiko nutrisi pada anak dengan alergi menyebabkan diet eliminasi, nutrisi pengganti yang buruk, kebutuhan diet yang meningkat, susah makan. Lebih parah, jika alergi tidak hanya 1 makanan hingga terjadi malnutrisi. Kemudian, pertumbuhan akan terhambat salah satunya karena suplementasi tidak adekuat.

3. Psikologi

Apabila terjadi alergi pada makanan, akan menimbulkan stress pada anak dan orang tua hingga menurunkan kualitas hidup si kecil.

4. Ekonomi

Biaya pengobatan akan meningkat karena hal ini. Begitu pula dengan meningkatkan biaya tidak langsung, bahkan kehilangan pendapatan karena orang tua sering tidak masuk kerja untuk mengurus anak yang alergi tersebut.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia