Waspadai Dampak Buruk Susu Kental Manis pada Bayi

Susu kental manis - Istimewa
27 Mei 2021 23:37 WIB Mia Chitra Dinisari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Koordinator Presidium Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) yang juga Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar, menyayangkan masih banyaknya ibu-ibu yang memberikan susu kental manis (SKM) kepada bayi dan anak-anak mereka.

Menurutnya, SKM itu tidak boleh diberikan kepada bayi dan anak-anak karena kandungan gulanya yang cukup tinggi.

“Sebenarnya susu kental manis itu tidak boleh diberikan kepada bayi dan anak. Itu hanya untuk toping buat makanan seperti es campur ataupun buat kopi. Itu pun sebenarnya tinggi gula sekali. Jadi, memang sangat disayangkan jika masih banyak ibu yang memberikannya kepada anak-anak, apalagi bayi mereka,” ujarnya.

Menurut dia, konsumsi minuman dengan kadar gula sangat tinggi seperti SKM ini merupakan indikator asupan makanan yang buruk, karena merupakan konsumsi yang tinggi kalori. Kalori yang didapat dari gula memberikan nilai gizi yang rendah yang menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak sehat, kerusakan gigi, dan penyakit degeneratif yang akan terbawa sampai dewasa.

Menurut Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-2971-1998, Susu Kental Manis adalah produk susu berbentuk kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari susu segar atau hasil rekonstitusi susu bubuk berlemak penuh, atau hasil rekombinasi susu bubuk tanpa lemak dengan lemak susu/lemak nabati, yang telah ditambah gula, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan lain yang diizinkan. Kandungan gula pada SKM menurut ketentuan SNI adalah 43-48%, yang merupakan gula yang ditambahkan.

Nia mengamati ada beberapa faktor yang menyebabkan pemberian SKM kepada bayi dan anak-anak. Salah satunya adalah karena ketidaktahuan informasi mengenai SKM itu bukan susu yang disebabkan edukasi ke masyarakat yang masih kurang. Menurutnya, informasi yang lebih banyak diterima masyarakat adalah iklan yang ditayangkan di TV dan medsos yang muatannya hanya buat jualan.

Selain pengaruh iklan, penyebab lain tingginya pemberian konsumsi SKM kepada bayi dan anak-anak adalah karena pemberian cuti maternitas atau pasca melahirkan yang sangat pendek hanya 1,5 bulan- dari perusahaan. Hal ini menyebabkan para ibu yang bekerja khususnya di pabrik-pabrik tidak memiliki kesempatan yang lebih panjang untuk menyusui bayi-bayi mereka.

Dikutip dari laman resmi GKIA Banyak penelitian yang menemukan hubungan yang positif antara konsumsi minuman berpemanis dengan kenaikan berat badan pada anak-anak dan orang dewasa (Malik et al, 2013).

Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan ada 8% balita yang gemuk, yang artinya ada sekitar 2 juta balita di Indonesia yang menderita kelebihan berat badan dan obesitas. Ini merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan karena anak-anak dengan kelebihan berat badan dan obesitas memiliki risiko tinggi mengalami masalah kesehatan pada masa dewasa seperti diabetes, tekanan darah tinggi, asma dan gangguan pernapasan lainnya, gangguan tidur dan penyakit hati.

Anak dengan kelebihan berat badan juga menderita berbagai masalah psikologis seperti kepercayaan diri yang rendah, depresi dan mengalami perundungan serta isolasi sosial (WHO, 2018b).

Selain itu, konsumsi minuman berpemanis juga meningkatkan risiko karies gigi yang berakibat meningkatnya kesakitan pada anak, kecemasan, rendahnya kehadiran di sekolah dan pencapaian akademik (WHO, 2018b). Kegemukan dan meningkatnya risiko berbagai macam penyakit termasuk tingkat kesakitan dan disabilitas akan terbawa sampai dewasa.
B

eban penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia saat ini sudah menunjukkan kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke tujuh untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi di dunia, dengan jumlah estimasi penderita diabetes sebanyak 10 juta orang. Diabetes dengan komplikasi merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia.

Sementara kelebihan berat badan dan obesitas, yang merupakan faktor risiko terbesar diabetes terus meningkat. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan tingkat kegemukan dan obesitas pada penduduk diatas usia 18 tahun mencapai 35.4%, meningkat secara signifikan dibandingkan tahun 2013 yang “hanya” 26.3%. Hal ini berarti  1 dari setiap 3 orang dewasa di Indonesia saat ini menderita kegemukan dan obesitas, sehingga meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif secara signifikan sangat mungkin terjadi.

Data Riskesdas 2013 menunjukkan lebih dari 50% penduduk usia diatas 10 tahun mengkonsumsi makanan atau minuman manis lebih dari 1 kali dalam sehari.

Dari hasil asesmen bersama Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Bandung dan Helen Keller International di Kota Bandung tahun 2018, ditemukan bahwa dari 500 anak usia 6-35 bulan, 50 diantaranya mengonsumsi SKM sehari sebelum dilakukan wawancara. Pada kelompok umur ini juga ditemukan konsumsi minuman dan makanan berpemanis yang tinggi yaitu susu berpemanis (33%), teh berpemanis (10%), biskuit manis (57%) serta konsumsi tambahan asupan gula (22%).

Maraknya promosi makanan-minuman olahan siap saji mempengaruhi pola orang tua dalam memberikan asupan pada anaknya. Orang tua menyatakan bahwa sumber informasi tentang cara pemberian makan bagi bayi dan balita berasal dari tenaga kesehatan (40%), anggota keluarga (26%), dan yang terbanyak justru dari media massa (44%).  Di Kota Bandung, hanya 2 dari 100 ibu batita yang menyatakan belum pernah melihat iklan makanan ringan. Sebanyak 20% responden menyatakan pernah melihat promosi makanan-minuman ringan di fasilitas kesehatan.
D

ari salah satu penelitian terbaru, disebutkan anak-anak yang terpapar dengan minuman tinggi kalori dan rasa manis sejak usia pra sekolah cenderung menolak makanan lain. Dengan demikian, mustahil kelengkapan gizi seimbang khususnya pemenuhan sayur dan buah dapat menjangkau kebutuhan anak di usia tumbuh kembang.

Beberapa studi telah menjelaskan peranan, pengetahuan dan perilaku orang tua dalam memilih dan memberi makan anak-anaknya sejak usia dini amat mempengaruhi pilihan makanan mereka di kemudian hari.

Pemasaran produk konsumsi makanan dan minuman bukan hanya memberi dampak pada orang tua, justru preferensi anak juga terpengaruh dengan semakin banyaknya paparan komersial, sebagaimana tujuan produsen – sedangkan anak-anak belum mempunyai kemampuan untuk memilah dan memahami kebutuhan gizinya sendiri.

Malnutrisi dan masalah ketidakseimbangan pangan telah menjadi ancaman besar terhadap tumbuh kembang anak di sepanjang sejarah berbagai bangsa. Praktik pemberian makan yang tinggi kalori, tapi miskin nilai gizi masih terjadi bahkan kian merebak akibat pemahaman yang salah dan komersialisasi berlebihan.

Studi membuktikan bahwa perbaikan atau perburukan pola konsumsi anak berhubungan timbal balik dengan pola makan keluarga secara keseluruhan. Anak-anak dengan kualitas konsumsi asupan nutrisi yang baik juga akan memberi dampak terhadap orang dewasa serumah, dengan demikian praktik pemberian makan/minum di usia dini mempengaruhi status gizi suatu bangsa secara keseluruhan.

Dari hasil penelitian yang cukup besar di Inggris ditemukan fakta bahwa orang tua mempunyai kesadaran terbatas tentang regulasi promosi/iklan makanan dan minuman bagi anak, sehingga menimbulkan tuntutan agar para pengiklan tidak diijinkan menyebut klaim kesehatan atas suatu produk apabila mengandung hal-hal yang membuat produk mereka tidak sehat (tinggi gula, garam dan lemak). Di Indonesia, terdapat kesenjangan literasi orang tua yang amat tidak berimbang. Orang tua di daerah perkotaan saja belum tentu paham tentang bahaya kelebihan gula dalam asupan nutrisi anak, apalagi mereka yang tinggal di pelosok.