Makin Beragam, Ini Perbedaan Vaksin Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, dan Cansino

Vaksin Covid-19. - ANTARA
30 Mei 2021 21:17 WIB Mutiara Nabila Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pemerintah sedang menjalankan Vaksinasi Covid-19. Ada tambahan jenis vaksin yang digunakan di Indonesia, yakni Sinopharm yang sudah mulai digunakan, dan akan masuk ke Indonesia pada Juni mendatang, Cansino.

Dengan dua tambahan jenis vaksin tersebut, artinya Indonesia sudah punya empat jenis vaksin berbeda. Lalu apa saja bedanya?

Vaksin CoronaVac dari Sinovac

Vaksin Sinovac merupakan vaksin Covid-19 yang pertama kali masuk ke Indonesia. Vaksin ini diimpor dari perusahaan Sinovac Biotech ke Indonesia dan diolah, dikelola, serta didistribusikan oleh PT Bio Farma.

Vaksin ini memiliki nama resmi CoronaVac, dan dikirimkan ke Indonesia baik dalam bentuk vaksin jadi dan dalam bentuk bahan yang kemudian harus diolah lebih lanjut oleh Bio Farma.

Adapun, saat ini Indonesia baru saja menerima tambahan 8 juta dosis bahan baku vaksin Sinovac.

Dengan tambahan tersebut, berdasarkan data Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Indonesia sudah mengamankan 3 juta dosis vaksin jadi, dan 73,5 juta dosis vaksin berbentuk bulk atau bahan baku.

Bahan dasar Vaksin Sinovac adalah virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif atau inaktivasi, dan merupakan salah satu cara yang sudah banyak digunakan, serta cukup tradisional dalam perkembangan teknologi pembuatan vaksin.

Untuk penyimpanannya cukup mudah, karena bisa disimpan di lemari pendingin biasa antara 2-8 derajat Celcius.

Dalam penggunaannya, penerima vaksin harus mendapatkan dua dosis dengan jeda 14-21 hari setelah disuntikkan dosis pertama.

CoronaVac juga diuji klinis di Indonesia yang melibatkan sekitar 1.600 orang. Dari pengujian tersebut efikasi CoronaVac di Indonesia 65,3 persen.

Sementara itu, pada pengujian di negara lain seperti di Brasil dan Uni Emirat Arab, efikasinya berbeda, masing-masing 56 persen dan 86 persen.

Kendati rendah, para ahli mengatakan, bahwa efikasi Vaksin Sinovac sudah cukup baik untuk melindungi keparahan seseorang, jika terinfeksi Virus Corona.

Adapun, WHO memasang patokan agar vaksin Covid-19 cukup memiliki efikasi di atas 50 persen.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati mengatakan, ketika diumumkan hasil efikasi Vaksin Sinovac sebesar 65,3 persen, mungkin masih ada banyak masyarakat kecewa, karena nilainya rendah.

“Tapi, menurut saya it is a good start. Apalagi, batasan minimal FDA, WHO dan EMA pun untuk persetujuan suatu vaksin adalah 50 persen. Artinya, secara epidemiologi, menurunkan kejadian infeksi sebesar 50 persen itu sudah sangat berarti dan menyelamatkan hidup banyak orang,” kata Zullies

Sementara itu, untuk efek samping bagi penerima Vaksin Sinovac, sampai saat ini Komnas Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) menyebut tak ada yang serius. Para penerima vaksin umumnya hanya mengalami nyeri, sementara di bagian yang disuntik, mengantuk, dan lapar.

Ada pula beberapa kasus melaporkan mual, diare, dan lemah usai divaksin menggunakan CoronaVac. Namun, kebanyakan kasus tersebut bisa sembuh sendiri dalam satu sampai dua hari setelah vaksinasi.

Vaksin Covid-19 AstraZeneca/Antara
Vaksin Covid-19 AstraZeneca - Antara

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul "Seluk Beluk Bahaya Pembekuan Darah Efek Vaksin AstraZeneca ", Klik selengkapnya di sini: https://lifestyle.bisnis.com/read/20210527/106/1398622/seluk-beluk-bahaya-pembekuan-darah-efek-vaksin-astrazeneca.
Author: Yuliana Hema
Editor : Novita Sari Simamora

Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:
Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPS
iOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS

Vaksin AstraZeneca

Vaksin kedua yang datang ke Indonesia adalah Vaksin AstraZeneca. Vaksin ini dikembangkan di Inggris oleh University of Oxford dan perusahaan AstraZeneca ini menjadi salah satu vaksin yang paling banyak digunakan di dunia.

Di Indonesia, vaksin ini pertama kali datang pada 26 April 2021 sebanyak 3,8 juta dosis atas hasil kerja sama antara pemerintah dengan Gavi COVAX Facility. Sejauh ini, pemerintah telah mengamankan 6,4 juta vaksin AstraZeneca.

Vaksin ini hampir sama dengan vaksin milik Sinovac, dibuat dengan teknologi tradisional, menggunakan platform adenovirus.

Vaksin ini disimpan di lemari pendingin biasa antara 2-8 derajat Celcius. Namun, penerima vaksin AstraZeneca harus diberi jeda 28 hari dari dosis pertama dan kedua.

Vaksin ini sudah mendapat izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Penawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Maret 2021 dengan efikasi 62,11 persen.

Di samping kesamaan dengan vaksin Sinovac, vaksin AstraZeneca mendapat lebih banyak sorotan lantaran banyak yang mengalami efek samping. Umumnya, para penerima vaksin mengalami kasus pembekuan darah.

Beberapa negara sempat menghentikan dan menunda penggunaan vaksin ini, termasuk Indonesia, setelah adanya 86 orang mengalami pembekuan darah dari 25 juta orang yang sudah menerima vaskin.

Namun, WHO dan regulator obat Eropa (EMA) kemudian menyatakan, bahwa vaksin ini aman dan kembali memperbolehkan penggunaan vaksin ini.

Di Indonesia sendiri, belum lama ini terjadi kasus serupa. Seorang pria berusia 22 tahun meninggal dunia dan mengalami pembekuan darah usai mendapatkan vaksin AstraZeneca.

Kasus itu membuat Kementerian Kesehatan, ITAGI, dan WHO menghentikan kembali, dan  meninjau salah satu bets vaksin AstraZeneca CTMAV547.

Setelah dilakukan peninjauan kembali, vaksin ini dinyatakan aman dan bisa lanjut digunakan. Adapun, kematian yang terjadi disebutkan tidak terhubung dengan vaksinasi. Namun, Kementerian Kesehatan memperikan peringatan kepada penderita pengentalan darah untuk memeriksakan diri sebelum mendapatkan vaksin tersebut.

Sejauh ini, penerima vaksin AstraZeneca yang melaporkan KIPI juga tercatat tak ada yang berat. Penerima umumnya hanya mengalami inflamasi, demam, sakit di bagian disuntik, dan mual.

Kotak-kotak berisi vaksin Covid-19 tertumpuk saat proses produksi di Beijing Biological Products Institute, unit dari China National Biotec Group (CNBG), anak perusahaan Sinopharm di Kota Beijing, China, Jumat (26/2/2021)./Antara-Reuters

Vaksin Sinopharm

Setelah mendapatkan vaksin Sinovac dan AstraZeneca, Indonesia mendapat Vaksin Sinopharm. Vaksin ini digunakan pihak swasta, Vaksinasi Gotong Royong.

Vaksin tersebut sempat menjadi perbincangan dan diragukan penggunaannya lantaran data uji klinis yang diberikan disebut-sebut tidak lengkap dan kurang transparan. Namun, setelah dilengkapi, WHO kemudian memberi izin penggunaan.

Badan POM pun resmi mengeluarkan izin penggunaan Vaksin Sinopharm yang diproduksi perusahaan Beijing Bio-Institute Biologival Products Co., pada 30 April 2021 dengan efikasi 78,02 persen setelah melakukan uji klinis fase tiga kepada 42.000 orang di Uni Emirat Arab.

Vaksin ini mulai digunakan para karyawan perusahaan yang sudah mendaftarkan diri ke Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada 18 Mei 2021.

Perintah baru mengamankan 1 juta dosis untuk vaksin ini.

Kendati perusahaan harus membayar sekitar Rp400.000 per dosis vaksin, para karyawan dan keluarga perusahaan yang menerima vaksin akan tetap mendapatkannya secara gratis.

Terkait dengan pembuatan, vaksin tersebut dibuat menggunakan platform virus inaktivasi atau dimatikan dan memiliki nama resmi Vero Cell.

Penyimpanannya pun mudah, seperti dua jenis vaksin sebelumnya, hanya perlu menggunakan suhu lemari pendingin 2-8 Celcius.

Berdasarkan keterangan Komnas KIPI, vaksin ini juga dinilai aman lantaran hanya menyebabkan nyeri di tempat suntikan, kemerahan, bengkak, sakit kepala, diare, nyeri otot, dan kejadian ringan lainnya yang dapat sembuh sendiri dalam satu sampai dua hari.

Sama juga dengan dua vaksin sebelumnya, vaksin ini membutuhkan dua kali penyuntikkan masing-masing 0,5 ml, dengan jeda empat minggu atau 28 hari.

Petugas menunjukkan vaksin Covid-19 tersegel dalam botol kecil yang akan diinjeksikan ke tennaga medis di RSUD dr. Iskak, Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (4/2/2021)./Antara

 

Vaksin Cansino

Terakhir, ada vaksin Cansino, yang dikabarkan akan segera masuk ke Indonesia pada Juni 2021. Vaksin yang diproduksi CanSino Biologics Inc. rencananya masuk dalam program Vaksinasi Gotong Royong oleh perusahaan swasta.

Berdasarkan hasil uji klinis yang dilakukan perusahaan produsen, efikasi vaksin ini mencapai 65,7 persen dan cukup kuat mencegah keparahan gejala ketika seseorang terpapar Covid-19.

Berbeda dengan vaksin sebelumnya, vaksin ini dikembangkan dengan platform adenovirus yang bekerjamembentuk antibodi ketika tubuh tertular Covid-19. Vaksin ini cukup disuntikkan satu kali saja.

Penyimpanan vaksin Cansino di lemari pendingin 2-8 derajat Celcius. Berdasarkan uji klinis yang dilakukan di Argentina, Chile, Meksiko, Pakistan dan Rusia, vaksin ini tidak menimbulkan efek samping berat, di antaranya hanya kemerahan pada area suntikan, demam, lemas, mual, nyeri dan otot.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengungkapkan akan ada sebanyak 5 juta dosis Vaksin Cansino yang akan tiba di Indonesia pada Juli 2021.

"Rencananya kita akan supply agreement dengan mereka 5 juta dosis. Pertama sekitar 3 juta dosis itu akan datang sekitar Juli-September dan sisa 2 juta dosis akan datang pada kuartal IV/2021," kata Honesti.

Saat ini, Honesti mengungkapkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Cansino masih berlangsung di BPOM dan diharapkan bisa selesai pada Juni mendatang.

"Kita harap mungkin Juni ini sudah keluar EUA-nya," katanya.

 

Sumber : Bisnis.com