Penelitian: Pelajar Main Internet Berjam-jam, Nilai di Sekolah Rendah

Ilustrasi. - Freepik
31 Mei 2021 16:07 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Kebiasaan berselancar di Internet hingga berjam-jam tak baik bagi pelajar.

Banyak pelajar yang masih duduk di bangku SMP menghabiskan waktu luangnya dengan bermain game atau bermedia sosial.

Namun, sebuah studi baru dari Center for Gambling Studies, Rutgers University-New Brunswick, menyarankan untuk tidak melakukan kegiatan tersebut selama lebih dari satu jam.

Berdasarkan penelitian yang terbit di jurnal Computers in Human Behavior ini, anak-anak remaja yang menghabiskan waktu dengan berselancar di Internet, bermedia sosial, atau bermain game, selama lebih dari satu jam setiap hari dalam hari-hari sekolah memiliki grade dan nilai akademis rendah.

BACA JUGA: Fadli Zon Positif Covid-19 Meski Telah Divaksin, Sejumlah Politisi Prihatin

"Selama pandemi Covid-19, teknologi sangat penting untuk memfasilitasi pembelajaran jarak jauh," kata penulis utama Vivien (Wen Li) Anthony.

"Di saat yang sama, muncul kekhawatiran penggunaan teknologi yang berlebihan, terutama untuk hiburan, dapat berdampak buruk bagi perkembangan pendidikan anak dengan memfasilitasi kebiasaan belajar yang tidak diinginkan dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk kegiatan belajar," sambungnya, dilansir Medical Xpress.

Penelitian ini menganalisis data dari China Education Panel Survey. Sekitar 10.000 siswa SMP dengan usia rata-rata 13,5 tahun disurvei dan diikuti.

Hasil studi menunjukkan anak-anak yang melakukan tiga kegiatan tersebut untuk hiburan selama empat jam atau lebih setiap harinya memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk bolos sekolah. Sebagian besar hal itu dilakukan oleh anak laki-laki.

"Temuan seperti itu sangat penting, terutama mengingat gerakan baru-baru ini menuju pembelajaran online di seluruh dunia," sambung Anthony.

"Dalam pembelajaran yang menggunakan internet, mudah bagi anak-anak untuk berpindah antar platform pendidikan dan hiburan selama pembelajaran tanpa memberi tahu guru," lanjutnya.

Temuan ini mendorong orang tua untuk memberi batas waktu dalam penggunaan teknologi interaktif anak-anak mereka. Guru dan orang tua juga harus membantu anak-anaknya untuk mengembangkan keterampilan manajemen waktu dan pengaturan diri yang efektif demi mengurangi ketergantungan anak pada teknologi.

Sumber : Suara.com