Praktisi Kesehatan: Pasien Covid Jangan Sembarang Konsumsi Obat

Ilustrasi Obat COvid-19. - Antara
30 Juni 2021 12:17 WIB Ni Luh Anggela Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pasien Covid-19 tanpa gejala bisa melakukan isolasi di rumah. Semakin banyak pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah, semakin banyak pula daftar obat-obatan yang diklaim sebagai terapi Covid.

Obat-obatan tersebut diklaim sebagai obat yang selalu diberikan kepada pasien covid di rumah sakit. Banyak orang yang terinfeksi Covid-19, pada akhirnya membeli sendiri semua obat yang ada di daftar tersebut.
 
Sebetulnya, tidak masalah apabila seseorang yang terinfeksi virus membeli obat-obatan dari daftar yang di klaim sebagai terapi Covid tersebut. Masalahnya adalah penggunaan obat harus secara rasional untuk mencapai tujuan pengobatan yang tepat, efektif, efisien dan mengurangi risiko efek yang merugikan.
 
Edukator dan praktisi kesehatan, dr RA Adaninggar PN, SpPD mengatakan bahwa obat-obatan tersebut memiliki dosis dan cara pemberian tertentu, disesuaikan dengan kebutuhan klinis pasien dan interaksi obat. Biaya yang terjangkau juga perlu dijadikan pertimbangan saat akan membeli obat terapi Covid ini.
 
“Yang bisa menilai semua indikator seperti diagnosis, indikasi, jenis obat serta dosis, cara dan lama pemberian, adalah dokter yang dibantu oleh apoteker,” jelas dr Ning pada laman Instagramnya @drningz, Rabu (30/6/2021).

Baca juga: Wagub DIY Ingatkan Pentingnya Peran Keluarga dalam Menangani Stunting
 
Kondisi klinis pasien berbeda-beda seperti gejala klinis yang berbeda, penyakit komorbid yang berbeda, usia yang berbeda dan konsumsi obat terkait penyakit komorbid juga berbeda-beda. Oleh karena itu, beda pilihan obat, beda pula lama pemberian obat dengan mempertimbangkan indikasi, kontraindikasi dan kemungkinan interaksi antar obat.
 
Obat yang boleh dan bisa digunakan pasien satu berbeda dengan pasien lain, tidak bisa disamaratakan. Jadi, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawat sebelum mengonsumsi obat apapun.
 
Covid merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, dan obat utamanya adalah antibodi tubuh.
 
Tujuan utama obat-obat yang diberikan adalah mendukung antibodi, karena sampai saat ini belum ada obat definitif, misalnya antivirus yang bisa membunuh SARS-CoV-2.
 
Pemberian obat-obatan pada pasien Covid harus memberikan manfaat yang lebih besar daripada risikonya,  dan dokter adalah yang paling layak untuk menentukan hal ini.
 
dr Ning membagikan beberapa jenis obat yang harus diberikan secara rasional dan sesuai dengan petunjuk dokter.
 
1.  Antibiotik

Antibiotik diberikan hanya untuk infeksi bakteri. Penggunaan sembarangan tanpa anjuran dari dokter akan meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotik dan efek samping.
 
2.  Antivirus

Tidak semua pasien harus mendapatkan antivirus. Selalu perhatikan pertimbangan manfaat dan risikonya karena belum ada antivirus definitif untuk Covid.
 
3.  Antiradang (golongan Steroid atau NSAID)

Anti Radang diberikan hanya untuk pasien dengan Covid gejala berat, saat inflamasi lebih dominan dibanding virus. Indikasi hanya untuk alergi, autoimun dan radang sendi kronik. Obat dengan rentang keamanan kecil ini harus digunakan secara benar, baik dosis dan lama pemberiannya, karena efek samping yang ditimbulkan sangat banyak.
 
Obat golongan Steroid dan anti radang berbahaya jika tidak digunakan sesuai dosis yang dianjurkan.

Pada fase awal infeksi, sistem imun dan keradangan justru dibutuhkan untuk melawan virus secara optimal, sehingga tidak dianjurkan untuk menggunakan obat anti radang.
 
Pada fase 3 keradangan berlebihan, obat steroid terbukti memberikan manfaat untuk menekan keradangan yang berlebihan.
 
Apabila gejala masuk pada fase  2 (paru) dan 3 (hiperinflamasi), ini terjadi bukan karena keradangan awal tidak dicegah, melainkan karena kegagalan pembersihan virus di fase awal dimana kegagalan respon interferon (terkait genetic dan kesehatan imun awal). Justru keradangan normal di awal adalah usaha fisiologis untuk melawan virus.
 
Sementara ini, menurut dr Ning, yang boleh dibeli adalah vitamin dan obat-obatan pereda gejala seperti obat flu, obat batuk pilek, penurun panas, anti mual atau muntah dan pengencer dahak.
 
dr Ning juga meminta masyarakat untuk waspada saat mengonsumsi obat-obatan baru yang sudah diklaim sebagai obat Covid, karena sampai saat ini belum ada obat definitif untuk pencegahan dan pengobatan Covid.
 
Selalu mengecek izin edar BPOM dan selalu konsultasi ke dokter terkait dosis, lama pemberian, indikasi, kontraindikasi dan risiko efek samping.
 
Bila positif terinfeksi Covid, segera isolasi mandiri di rumah, dan jika mengalami sesak nafas, jangan sembarangan melakukan terapi nebulisasi atau uap.
 
“Karena akan memproduksi aerosol dan tidak semua sesak bisa diobati oleh nebulisasi, jadi pastikan untuk selalu konsultasi dulu ke dokter,” jelasnya.

Sumber : bisnis.com