Minum Kopi Dapat Mengurangi Risiko Penyakit Liver

Barista menyajikan kopi pada Mandiri Jakarta Coffee Week (JACOWEEK) 2018 di Jakarta, Jumat (28/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
01 Juli 2021 04:47 WIB Anissa Putri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Penyakit hati atau liver menyebabkan 2 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Sedikitnya 1 juta orang meninggal karena komplikasi sirosis dan lainnya dari hepatitis virus dan karsinoma hepatoseluler.

Menurut penelitian, daerah yang paling parah terkena penyakit liver adalah sub-Sahara Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, Eropa Timur, dan Asia Tenggara. Faktor pemicu penyakit hati antara lain konsumsi alkohol, kelebihan berat badan, dan diabetes.

Namun, sebuah penelitian dari para peneliti di Universitas Southampton dan Edinburgh di Inggris, muncul dalam jurnal BMC Public Health yang melibatkan hampir 500.000 orang menemukan bahwa minum kopi secara signifikan menurunkan risiko penyakit liver. 

Manfaat kesehatan ini berlaku untuk semua jenis kopi, termasuk kopi berkafein, tanpa kafein, bubuk, dan instan. Meminum 3-4 cangkir per hari memberikan manfaat menurunkan risiko penyakit hati kronis, penyakit hati berlemak, kanker hati, dan kematian akibat penyakit hati kronis.

Ahli hepatologi transplantasi Klinik Cleveland Dr. Talal Adhami menyebutkan bahwa penelitian tersebut benar-benar menakjubkan.

“Ada penelitian yang lebih kecil, dan ada hubungan antara kesehatan hati dan kopi, tetapi penelitian ini sebenarnya menarik hubungan yang jauh lebih besar hanya dari jumlah pasien yang banyak,” ucap Dr. Talal Adhami yang dilansir dari www.medicalnewstoday.com, Rabu (30/6/2021).

Penulis penelitian menganalisis data kesehatan Biobank Inggris dari 494.585 orang dengan mengikuti mereka selama rata-rata 10,7 tahun. Sebanyak 109.767 tidak mengonsumsi kopi, sisanya 384.818 adalah peminum kopi berkafein, tanpa kafein, bubuk, dan instan.

Selama masa penelitian, sebanyak 3.600 orang memiliki diagnosa penyakit hati kronis, 5.439 kasus penyakit hati kronis atau penyakit hati berlemak, dan 184 kasus karsinoma hepatoseluler dan terdapat 301 kematian akibat penyakit hati kronis.

Dibandingkan dengan peserta yang tidak mengonsumsi kopi, risiko penyakit hati kronis peminum kopi 21 persen lebih rendah. Mereka juga memiliki 19 persen penurunan risiko pemicu penyakit liver kronis atau perlemakan hati, dan menurunkan risiko karsinoma hepatoseluler sebesar 21 persen. Para peminum kopi juga 49 persen lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal karena penyakit hati.

Bagi orang yang minum kopi dari biji giling, pengurangan risikonya bahkan lebih besar. Risiko mereka terkena penyakit hati kronis atau penyakit hati berlemak berkurang 35 persen, menurunkan risiko karsinoma hepatoseluler sebesar 34 persen, dan kematian karena penyakit hati sebesar 61 persen.

Dr. Adhami menjelaskan kopi sebenarnya dapat membantu pada tahap awal penyakit hati, karena hati menjadi meradang sebagai respons terhadap patogen.

“Kopi juga membantu mempengaruhi proses jaringan parut, dan juga nantinya pada pasien sirosis atau pasien dengan jaringan parut lanjut yang rentan terkena kanker hati primer.” tambahnya kemudian.

Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa sampelnya terdiri dari individu kulit putih dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih tinggi, sehingga temuannya mungkin tidak dapat diterapkan secara universal.

Perlu digarisbawahi, pada penelitian ini tidak menyelidiki mekanisme mengapa kopi sangat bermanfaat bagi hati. Dr. Adhami mengatakan bahwa sebagai hasil dari penelitian ini, ia mengantisipasi uji klinis terkontrol secara acak yang menguji berbagai molekul kopi terhadap penyakit hati.

“Percayalah, ini adalah berita paling menggembirakan untuk penyakit hati [liver],” komentarnya.

Kopi dapat dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Selain itu, manfaat yang terlihat dari penelitian dapat berarti menawarkan pengobatan pencegahan potensial untuk penyakit hati kronis. Ini akan sangat berharga di negara-negara dengan pendapatan lebih rendah dan akses yang lebih buruk ke perawatan kesehatan dan di mana beban penyakit hati kronis paling tinggi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com