Mengobrol dengan Teman Terbukti Bisa Mengurangi Stres

Ilustrasi. - Freepik
02 Juli 2021 23:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Bagi kaum perempuan, mengobrol dengan teman bisa menjadi satu kegiatan yang menarik bahkan diagendakan. Ternyata, curhat antar perempuan bisa meredakan stres.

Hal ini berdasarkan penelitian dari Beckman Institute for Advanced Science and Technology, University of Illinois Urbana-Champaign. Berbicara dengan sesama perempuan bisa mengurangi kadar hormon stres Anda.

Melansir dari Health Shots, persahabatan berdampak pada efisiensi komunikatif dan respons kortisol (hormon stres) selama pemecahan masalah kolaboratif di antara perempuan di semua umur. Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Women and Aging.

Dipimpin oleh mantan peneliti Beckman Institute Postdoctoral, Michelle Rodrigues dan tim interdisipliner mengevaluasi bagaimana usia dan keakraban satu sama lain berdampak pada percakapan, meninjau efektivitas keseluruhan interaksi, dan respons stres yang dihasilkan sebagai hasilnya.

Baca juga: IDI: Ini Waktu Virus Corona Paling Menular dari Pasien Covid-19. Hati-Hati!

"Perempuan telah mengembangkan mekanisme alternatif dalam menanggapi stres," kata Rodrigues yang saat ini merupakan asisten profesor di Departemen Ilmu Sosial dan Budaya di Marquette University.

"Untuk menangani stres, perempuan bisa berteman dengan teman sebaya mereka," imbuhnya.

Pada penelitian ini, para peneliti menguji 32 perempuan. Sekitar 16 perempuan berusia 62 sampai 79 tahun. Sementara 16 lainnya adalah dewasa muda berusia 18 samapai 25 tahun. Setiap peserta dipasangkan dengan seorang teman atau orang asing.

Pasangan bicara dewasa yang lebih muda berkomunikasi lebih efisien dengan mitra yang sudah dikenal sementara rekan-rekan mereka yang lebih tua berkomunikasi kurang efisien dengan mitra yang tidak dikenal.

Baca juga: Simak Panduan Isolasi Mandiri di Rumah dari Kemenkes

"Meskipun orang dewasa yang lebih tua memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang penting bagi mereka, jelas bahwa mereka memiliki keterampilan sosial untuk berinteraksi dengan orang-orang yang tidak dikenal," kata Rodrigues.

Tim Rodrigues juga mengukur kortisol saliva untuk mengukur dan membandingkan tingkat stres peserta selama proses pengujian.

"Ketika Anda mengalami sesuatu yang membuat stres, jika Anda memiliki sistem respons stres yang berfungsi sebagaimana mestinya, hasilnya adalah jumlah kortisol yang meningkat, hormon stres utama yang kemudian memberi tahu tubuh kita untuk melepaskan glukosa ke aliran darah kita," katanya.

Di kedua kelompok umur, mereka yang berbicara dengan pasangan yang sudah dikenal secara konsisten menurunkan kadar kortisol daripada yang berbicara dengan mitra asing.

"Kita dapat melihat bahwa persahabatan memiliki efek yang sama sepanjang masa. Mitra yang akrab bisa menurunkan stres," kata Rodrigues.

Sumber : Suara.com