Heboh Susu Beruang, Begini Sederet Tanggapan Masyarakat dan Ahli Gizi di Jogja

Ilustrasi. - Freepik
06 Juli 2021 00:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Belakangan ini susu siap minum dalam kaleng bergambar beruang atau susu beruang sedang ramai diperbincangkan. Hal itu berawal dari adanya video pengunjung supermarket yang berebut membeli susu beruang menjelang penerapan PPKM Darurat.

Mereka rela berdesak-desakan di tengah pandemi Covid-19 untuk mendapatkan susu yang dinilai bisa menangkal Covid-19 tersebut. 

Lantas, bagaimana tanggapan masyarakat dan ahli gizi melihat fenomena tersebut?

Tasya, 22, alumni Politeknik Kesehatan Yogyakarta menilai bahwa cara mencegah penularan virus Sars-CoV-2 penyebab Covid-19 tidak hanya dengan mengonsumsi susu beruang. "Yang jelas protokol kesehatan [dilakukan]. Untuk menjaga imun bisa konsumsi vitamin C misalnya bikin minuman jeruk nipis," katanya pada Harianjogja.com, Senin (5/7/2021). 

Senada juga disampaikan Anna Pawestrin, 30, seorang ibu muda yang berprofesi sebagai guru di salah satu SMA swasta di Jogja. Menurutnya manusia perlu berpikir dengan logika bahwa untuk mencegah Covid-19 bisa dilakukan dengan banyak cara selain dengan meminum susu beruang. 

"Misalnya vitamin D dari sinar matahari, makan-makanan bergizi dan bervitamin juga berlimpah bisa beli di mana aja misalnya lewat online, olahraga, dan yang jelas patuhi protokol kesehatan," tutur dia. 

Baca juga: Covid-19 DIY Tambah 1.465 Kasus, 32 Orang Meninggal Dunia

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY Ascar Setiyono berpendapat masyarakat yang tengah resah dan khawatir akan kondisi dirinya saat pandemi ini sangat rentan terhadap informasi yang seolah-olah bisa menjadi solusi akan apa yang dialaminya. "Apapun akan ditempuhnya supaya tetap atau kembali sehat. Yang terjadi akhirnya adalah impulsive buying [keputusan tidak terencana] atau lebih parah terjadi panic buying [aksi memborong] terhadap produk yang kata orang mujarab [mengobati Covid-19]," tutur Ascar.

Menurut dia, masyarakat perlu mengambil waktu sejenak untuk mempertimbangkan, menganalisa sebelum mengambil keputusan membeli supaya tidak menyesal di kemudian hari.

Sementara itu, Lurah Kalurahan Widodomartani Kapanewon Ngemplak Heruyono mengatakan bahwa susu beruang bukan untuk menyembuhkan Covid-19. Nilai gizi susu tersebut sama dengan susu sapi pada umumnya. "Mindsetnya yang terbentuk itu susu beruang lebih tinggi gizinya. Padahal minum susu beruang jika tanpa menjalankan protokol kesehatan juga akan sia-sia," kata Heruyono. 

Susu beruang tidak dapat mengobati Covid-19 juga ditegaskan oleh ahli gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahadyana Muslichah, S.Gz., M.Sc.. Menurutnya hingga saat ini belum apa penelitian yang membuktikan bahwa susu beruang bisa mengobati Covid-19 terutama varian baru. "Susu beruang bukan obat dan sampai sekarang pun belum ada obat spesifik untuk mengobati Covid-19. Jadi klaim susu beruang bisa menyembuhkan Covid-19 itu tidak benar," tegasny.

Ia menjelaskan dalam setiap produk susu memiliki kandungan gizi yang hampir sama, termasuk susu beruang. Dalam produk susu mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin serta mineral.

Hanya saja, dalam susu beruang varian kemasan warna putih merupakan produk susu murni (100% susu sapi). Di dalamnya hanya mengandung makronutrien yakni karbohidrat, protein, serta lemak. Sementara varian lainnya telah difortivikasi dengan vitamin dan mineral.

"Tidak ada perbedaan antara susu beruang dengan produk susu lainnya, kandungan gizinya hampir sama. Soal kandungan gizi ini bisa dicek di label kemasan," terang dosen Departemen Gizi Kesehatan FKKMK UGM ini.

Makanan Bergizi

Lebih lanjut ia mengatakan mengonsumsi susu saja tidak lantas meningkatkan imunitas tubuh. Untuk menjaga dari paparan Covid-19, tubuh membutuhkan asupan makanan bergizi. "Minum susu sebenarnya salah satu opsi yang bisa dikonsumsi untuk tambahan asupan. Utamanya ya dari makanan holistik yakni karbohidrat, protein, sayur, dan buah, kalau susu saja tidak lengkap kandungan gizinya," paparnya.

Selain itu upaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan rutin melakukan aktivitas fisik dan dibarengi upaya mengelola stres. Tak lupa disiplin menerapkan protokol kesehatan yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menjauhi kerumunan, serta memakai masker.