Advertisement

Kebotakan Bisa Picu Depresi, Ini Penjelasannya

Janlika Putri Indah Sari
Selasa, 31 Agustus 2021 - 16:27 WIB
Budi Cahyana
Kebotakan Bisa Picu Depresi, Ini Penjelasannya Pria botak - mirror.co.uk

Advertisement

Bisnis.com, JAKARTA —Alopesia atau kebotakan ialah hilangnya folikel rambut, hilangnya batang rambut atau keduanya. Kondisi tersebut bisa menimpa wanita atau pria, dan dapat membuat rasa percaya diri seseorang berkurang.

Dokter spesialis kulit dan kelamin dari ZAP Premiere, Eyleny Meisyah Fitri, mengatakan kebotakan bisa menyebabkan kecemasan dan depresi.

"Individu dengan alopesia dapat mengalami kehilangan percaya diri, insecurity dan kecemasan, depresi, bahkan social phobia dan paranoid disorder," ujarnya secara virtual pada acara ZAP Premiere Virtual Media Meet Up, Selasa (31/8/2021).

Eyleny menjelaskan jika secara aspek psikologis penipisan rambut dapat terlihat dan secara kosmetik mengganggu jika terjadi
kerontokan sejumlah minimal 50% dari area tertentu.

Jutaan individu di dunia merasa bahwa alopesia merupakan masalah yang cukup mengganggu secara personal, sosial, dan juga lingkungan pekerjaan.

Hilangnya folikel rambut dapat disebabkan oleh tidak terbentuknya atau pembentukan yang tidak normal, maupun kerusakan dari folikel rambut.

Itu bisa disebabkan dari sumber yang dimiliki sejak lahir (kongenital) atau didapat dari faktor lain. Faktor lainnya adalah kerontokan, pencabutan, miniaturisasi, ataupun kerusakan lainnya.

Hair loss atau alopesia yang terjadi dapat bervariasi mulai dari penipisan rambut, hairline recession atau mundurnya garis rambut, hingga botak seluruhnya.

Selain di kulit kepala, alopesia juga dapat terjadi di area pertumbuhan rambut lainnya misalnya pada alis, bulu mata, ketiak, atau area kelamin dengan atau tanpa alopesia kulit kepala.

Karena memiliki banyak penyebab, maka terapi atau pengobatan disesuaikan dengan masing-masing jenis penyebab alopesia tersebut.

Advertisement

"Hasil maksimal didapatkan dengan pengulangan sesi terapi dan juga kombinasi dengan berbagai modalitas terapi lainnya, misalnya PRP,
terapi topikal dan suplementasi jika diperlukan," tutup Eyleny.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Gelar Pertemuan di Jogja, Aktivis 98 Ingatkan Politikus Jangan Suka Bikin Gimmick

Jogja
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 22:27 WIB

Advertisement

alt

Lulusan IPB Ogah Jadi Petani karena Penghasilan Kecil

News
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 23:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement