Pria Usia 30-an Bisa Alami Disfungsi Ereksi karena Ini

Disfungsi ereksi - curejoy.com
22 September 2021 20:27 WIB Rika Anggraeni Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Disfungsi ereksi (DE) adalah kondisi umum yang mengganggu dan mempengaruhi satu dari dua pria yang aktif secara seksual. Kondisi ini biasanya dianggap sebagai masalah penuaan di mana seorang pria mengalami tingkat testosteron rendah yang terjadi seiring bertambahnya usia.

Andropause atau menopause pria terjadi penurunan bertahap tingkat testosteron sejak usia 40 tahun. Begitu pula dengan pria yang mencapai usia 60-an, persentase mereka yang menderita DE diperkirakan mencapai angka sekitar 80 persen.

Penyebab fisik dari disfungsi ereksi (DE) disebabkan oleh banyak hal, mulai dari kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, obesitas, penggunaan tembakau atau rokok, alkohol, gangguan tidur, hingga masalah prostat.

Dr Benjamin Loh dari Dr Ben Medical mengatakan bahwa terlepas dari tingkat testosteron yang lebih rendah, seiring bertambahnya usia seorang pria, kemungkinan orang itu dapat mengembangkan penyakit prostat dan gaya hidup meningkat.

Dr Loh baru-baru ini telah melihat peningkatan jumlah pria muda berusia 30-an yang menderita DE dan mengatakan sebagian besar penderita disebabkan oleh tingginya tingkat stres yang mereka hadapi di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi mereka.

Penyebab psikologis seperti inilah yang menyumbang sekitar 20 persen kasus DE pada pria muda usia 30-an.

“Otak memainkan peran penting dalam memulai serangkaian peristiwa fisik yang mengarah pada ereksi, dan sejumlah faktor dapat mengganggu perasaan seksual dan memperburuk atau menyebabkan DE,” kata Dr Loh seperti dilansir dari The Straits Times pada Rabu (22/9/2021).

Dr Loh melanjutkan bahwa dalam kebanyakan kasus, masalah psikologis seperti kecemasan dapat menyebabkan DE pada pria yang lebih muda.

Walaupun terdengar menyeramkan, namun ada pengobatan untuk DE. Selain pengobatan sildenafil konvensional, seseorang yang mengalami DE juga dapat menggunakan terapi Extracorporeal Shockwave Therapy (ESWT).

Terapi ESWT telah digunakan sejak tahun 1970-an, tetapi kebanyakan untuk mengobati pasien batu ginjal.

“Ini efektif pada kebanyakan pasien yang memulai rencana perawatan. Ini tidak hanya memperbaiki gejala DE yang terkait, tetapi berpotensi mengurangi ketergantungan pada obat DE. Dan umumnya prosedur ini tidak menimbulkan rasa sakit, meskipun sangat sedikit pasien yang mungkin mengalami ketidaknyamanan ringan,” jelasnya.

Dr Loh mengatakan ESWT mungkin memiliki efek samping umum seperti mulas, hidung tersumbat, sakit kepala, muka memerah, sakit punggung, dan gangguan penglihatan warna untuk sementara.

“Dalam kasus yang jarang terjadi, Anda dapat mengalami ereksi yang menyakitkan. Istilah medisnya adalah 'priapisme'. Pasien dengan kondisi kesehatan tertentu harus menahan diri untuk tidak menggunakan [pil tersebut],” Dr Loh memperingatkan.

Beberapa pria malu menceritakan tentang masalah mereka, sementara sebagian pria juga kurang pengetahuan atau takut. Meskipun DE tidak mengancam jiwa, namun bisa menjadi indikasi awal dari kondisi medis mendasar yang harus ditangani. Oleh sebab itu, Dr Loh mendesak mereka yang mengalami DE untuk berkonsultasi dengan dokter.

“Sangat penting bagi Anda untuk mencari bantuan dan mencari tahu apa yang menyebabkan disfungsi ereksi Anda. Anda perlu tahu apakah itu terkait dengan kondisi medis kronis seperti apnea tidur obstruktif, testosteron rendah dan diabetes, atau kondisi langka seperti tumor otak,” ucapnya.

Dr Loh juga meyakinkan bahwa sebagian besar kasus DE dapat disembuhkan. Ketika penyembuhan permanen untuk DE tidak memungkinkan, pengobatan yang tepat dapat meminimalkan gejala.

Sumber : Bisnis.com