Konsumsi Berita Melonjak saat Pandemi, Google Kembangkan Fitur Big Moments

Pengguna Chrome sebenarnya sudah dapat memblokir sendiri sejumlah iklan yang menyedot banyak daya berkat fitur "Heavy Ad Intervention" yang dirilis Google untuk Chrome 80 pada awal tahun ini. - ANTARA
13 Oktober 2021 17:17 WIB Akbar Evandio Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perusahaan multinasional Amerika Serikat, Google tengah mengembangkan fitur Big Moments untuk menyaingi Facebook dan Twitter dalam menyampaikan berita terkini.

Dikutip melalui USAToday, Google melihat pandemi Covid-19 memaksa mesin pencarian bereaksi dengan cepat dan terus-menerus terhadap kebutuhan pengguna akan informasi terbaru dan paling otoritatif.

Berdasarkan penelitian Institut Pew Research, pandemi meningkatkan konsumsi berita, serta penggunaan media daring dan sosial, di mana 31 persen orang dewasa di Amerika Serikat (AS) mendapatkan berita secara teratur di Facebook, sementara sebanyak 13 persen menggunakan Twitter untuk mendapatkan berita.

Hanya 11 persen orang dewasa di AS yang menggunakan Google News. Sekitar seperempat atau 24 persen mengatakan bahwa mereka kadang-kadang menggunakannya.

Baca juga: Begini Momen Luna Maya Bertemu Ariel Noah, Sempat Grogi

Selain itu, studi Reuters dan Oxford menunjukkan bahwa banyak orang tidak mempercayai berita dari media sosial. Walaupun beberapa riset menyebutkan persentase yang lebih besar untuk orang yang mencari berita di Facebook dan Twitter.

Penelitian menunjukkan 40 persen responden mengatakan mereka paling khawatir tentang informasi palsu di media sosial. Sedangkan kekhawatiran terhadap mesin pencarian di Google hanya 10 persen.

Big Moments pun diharapkan untuk membangun fitur cakupan penuh atau full coverage Google, yang diluncurkan di Google News pada 2018. Adapun, fitur cakupan penuh memungkinkan pengguna memasuki tajuk berita dan melihat bagaimana cerita itu dilaporkan dari berbagai sumber.

Fokus Google pada berita terbaru datang ketika konsumsi berita melonjak dan menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan teknologi. Salah satu berita yang disorot baru-baru ini yakni pelapor Facebook Frances Haugen.

Sumber : bisnis.com