Advertisement

4 Mitos Kanker Prostat yang Terbukti Salah: Tak Bisa Ereksi

Restu Wahyuning Asih
Rabu, 03 November 2021 - 23:37 WIB
Budi Cahyana
4 Mitos Kanker Prostat yang Terbukti Salah: Tak Bisa Ereksi Ilustrasi penderita kanker prostat - JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Harianjogja.com, SOLO - Kanker prostat adalah penyakit yang kerap menghampiri pria setelah menginjak usia 65 tahun. Pria berusia di bawah 40 tahun sangat jarang mengidap kanker prostat.

Kanker tersebut pun berada di posisi atas deretan penyakit kanker yang paling mematikan di Indonesia.

Menurut Indonesia Cancer Care Indonesia (ICCC), sebagian pasien yang mengidap kanker prostat tak merasakan gejala apapun. Bagi sebagian pasien, gejala awal penyakit ini adalah nyeri pada punggung dan panggul.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Berikut empat mitos seputar kanker prostat yang dianggap berbahaya, tetapi ternyata faktanya adalah salah.

1. Sering menahan kencing

Hingga kini belum ditemukan penelitian lebih lanjut yang mengaitkan menahan kencing dengan membesarkan prostat.

Menahan kencing tak menyebabkan adanya perubahan pada prostat. Karena secara umum, pembesaran diduga terjadi akibat pengaruh keseimbangan hormon androgen dan estrogen saat pria sudah mulai menginjak masa tua.

Hormon tersebut yang menganggu keseimbangan sel prostat, sehingga terjadi pembesaran dan pembengkakan.

2. Tak lagi bisa ereksi

Sebagian pria merasa cemas setelah didiagnosis kanker prostat karena adanya mitos yang berkaitan dengan kehidupan seksual mereka.

Mengidap kanker prostat disebut juga menurunkan libido dan gairah di ranjang. Pascaoperasi, ereksi yang kuat memanglah sedikit lebih susah dari biasanya.

Advertisement

Untuk itu perlu adanya pemulihan yang memakan waktu 24 bulan, tergantung kondisi pasien. Selain itu, mitos mengenai pengobatan kanker prostat yang menyebabkan terjadinya impotensi adalah tidak benar.

Setelah operasi, pria mungkin akan sedikit sering mengompol tapi ini hanya bersifat sementara dan bisa diobati.

3. Bukan penyakit turun temurun

Genetik merupakan salah satu faktor risiko kanker terjadi pada seorang individu.

Advertisement

Jika ayah menderita kanker prostat, maka sang anak atau berisiko mengalami kanker prostat 2 kali lebih tinggi. 

Potensi dan risiko kanker prostat tergantung dari gaya hidup sehari-hari.

4. Penyakit tidak mematikan

Pertumbuhan sel-sel kanker yang menyerang prostat terjadi cukup lambat dan bahkan tidak menimbulkan gejala.

Hal tersebut menyebabkan banyak pria tidak sadar telah memiliki kanker prostat dan baru mencari pengobatan saat kondisinya sudah parah.

Advertisement

Meski begitu, ada juga kasus kanker prostat yang terjadi sangat cepat dan agresif.

Sama halnya dengan jenis kanker lainnya, kanker prostat juga bisa mematikan jika dibiarkan tanpa penanganan.

Oleh sebab itu penderita sebaiknya terus melakukan konsultasi terhadap dokter setelah didiagnosa penyakit kanker prostat.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 30 September 2022, Tiket Rp8.000

Jogja
| Jum'at, 30 September 2022, 09:07 WIB

Advertisement

alt

Jokowi Geram Indonesia Terus Impor Aspal

News
| Jum'at, 30 September 2022, 08:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement