WHO Ramalkan Eropa Kembali Jadi Episentrum Covid-19

Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19 "Comirnaty" Pfizer-BioNTech di pusat vaksinasi Paris, Prancis (12/5/2021)./Antara - Reuters/Gonzalo Fuentes
05 November 2021 11:57 WIB John Andhi Oktaveri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Cakupan vaksin yang tidak merata dan pelonggaran tindakan pencegahan telah membawa Eropa kembali ke “titik kritis” pandemi Covid-19. Jumlah kasus di benua biru itu mendekati rekor dan diperkirakan akan mencatat 500.000 kematian hingga Februari tahun depan.

Hans Kluge, direktur WHO untuk Eropa mengatakan semua dari 53 negara di kawasan itu menghadapi “ancaman nyata kebangkitan Covid-19 dan mendesak pemerintahan untuk menerapkan kembali protokol kesehatan. Selain Jerman, Estonia dan Latvia termasuk negara yang mengalami lonjakan kasus dan angka kematian.

“Kita, sekali lagi, berada di pusat penyebaran,” katanya seperti dikutip TheGuardian.com, Jumat (5/11/2021).

Dengan lonjakan infeksi virus yang meluas dia meminta setiap otoritas kesehatan untuk mempertimbangkan kembali dengan hati-hati pelonggaran atau pencabutan langkah-langkah pencegahan saat ini. 

Dia mengatakan bahwa hanya di negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi imunisasi dapat berbuat banyak.

“Pesannya selalu: lakukan semuanya,” kata Kluge.

Dia menambahkan bahwa vaksin akan mencegah bentuk penyakit yang parah dan terutama kematian. Akan tetapi vaksin adalah aset paling kuat jika digunakan bersama dengan tindakan protokol kesehatan masyarakat.

Catherine Smallwood, petugas darurat senior WHO untuk Eropa mengatakan negara-negara yang sebagian besar telah mencabut tindakan pencegahan telah mengalami lonjakan infeksi.

Semakin banyak kasus yang Anda alami, semakin banyak orang akan masuk rumah sakit dan semakin banyak orang pada akhirnya akan mati. Jadi ada penjelasan yang sangat sederhana untuk apa yang terjadi, ujarnya.

“Kami memiliki banyak individu yang rentan, termasuk di negara-negara dengan vaksinasi tinggi dan ini mengarah pada ledakan wabah Covid-19 yang tidak terduga. Bukan itu yang kami inginkan saat ini,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia