Kebiasaan Ini Harus Dihindari karena Bisa Merusak Otak

Ilustrasi - JIBI/Bisnis.com
12 November 2021 21:57 WIB Ni Luh Anggela Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Menjaga otak agar tetap berfungsi dengan baik hingga usia lanjut  menjadi impian banyak orang. Otak berperan penting dalam mengendalikan seluruh fungsi tubuh, sehingga menjaganya tetap sehat merupakan hal yang penting.
 
Seiring bertambahnya usia, fungsi otak akan mengalami penurunan dan tentu saja kondisi ini tidak dapat kita hindari. Penurunan fungsi otak dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami pikun, demensia dan Alzheimer. Namun dengan menjaganya tetap sehat, Anda masih dapat mencegah gangguan tersebut.
 
Menjalani pola hidup sehat adalah salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk menjaga otak Anda tetap sehat. Selain itu, ada beberapa kebiasaan yang juga perlu Anda kurangi atau sebisa mungkin dihentikan. Sebab jika otak Anda terlanjur mengalami kerusakan, ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi.
 
Berikut kebiasaan-kebiasaan yang dapat merusak otak, sehingga Anda dapat merubah kebiasaan tersebut dari sekarang.

1. Minum alkohol berlebihan

Sebenarnya jika tidak diminum berlebihan, alkohol dapat memberikan manfaat yang baik untuk tubuh. Red wine misalnya, diketahui dapat memangkas lemak tubuh dan beberapa minuman beralkohol lainnya dapat membuat seseorang menjadi rileks.
 
Sayangnya, jika terlalu banyak, alkohol dapat membuat otak kita menyusut.  Melansir Eat This, Jumat (12/11/2021), beberapa penelitian telah menemukan bahwa minum alkohol berlebihan dikaitkan dengan pengurangan volume otak, termasuk penelitian tahun 2007 yang menemukan semakin banyak orang minum alkohol secara teratur, semakin rendah volume otak mereka. Agar tetap aman, minumlah hanya dalam jumlah sedang: Tidak lebih dari dua gelas sehari untuk pria dan satu gelas sehari untuk wanita.

2. Merokok

Selain merusak paru-paru Anda, merokok ternyata dapat merusak otak Anda. Satu studi menemukan bahwa merokok secara teratur, satu batang sehari, dapat mengurangi kemampuan kognitif. Sedangkan, merokok satu bungkus sehari dapat mengurangi pemikiran kritis dan memori hampir 2 persen.
 
Ratusan racun yang ada dalam tembakau menyempitkan dan merusak pembuluh darah, termasuk yang ada di otak, sehingga otak kehilangan darah dan okisgen yang bergizi.

3. Minum kopi berlebihan

Segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik, begitu pula dengan kopi. Sebuah penelitian di Australia terhadap hampir 400.000 orang menemukan bahwa mereka yang melaporkan minum lebih dari enam cangkir kopi sehari memiliki risiko 53 persen lebih tinggi terkena demensia dan volume otak lebih kecil daripada orang yang minum lebih sedikit.
 
Sementara itu, konsumsi kopi dalam jumlah sedang telah dikaitkan dengan banyak manfaat kesehatan, termasuk risiko penyakit jantung yang lebih rendah, Alzheimer dan Parkinson. Jadi, pastikan untuk tidak minum kopi secara berlebihan untuk merasakan manfaatnya.

4. Tidak cukup berolahraga

Tetap aktif secara fisik adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan tubuh, termasuk kesehatan otak Anda.
 
Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua yang melakukan olahraga tingkat sedang,  termasuk berjalan, berkebun, berenang, atau menari, memiliki penyusutan otak yang jauh lebih sedikit daripada mereka yang tidak aktif. Perbedaannya setara dengan empat tahun penuaan otak, kata peneliti dari Columbia University, yang membandingkan MRI otak dari 1.557 orang tua dengan tingkat aktivitas fisik mereka.

5. Stres

Stres umumnya bersifat sementara. Namun jika berkepanjangan, ini dapat mengganggu kesehatan fisik seseorang.
 
Sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Neurology menemukan bahwa orang yang menjalani kehidupan dengan stres tinggi dapat mengalami penyusutan otak dan kehilangan memori bahkan sebelum mereka berusia 50 tahun.
 
Dr. Sudha Seshadri, profesor neurologi di UT Health San Antonio, yang juga merupakan penulis studi tersebut menjelaskan, tingkat kortisol yang lebih tinggi, hormon stres, tampaknya memprediksi fungsi otak, ukuran otak dan kinerja pada tes kognitif.
 
“Kami menemukan kehilangan memori dan penyusutan otak pada orang yang relatif muda jauh sebelum gejala apa pun terlihat. Tidak pernah terlalu dini untuk berhati-hati dalam mengurangi stres,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis.com