Bisa Bikin Jomlo Abadi, Apa Itu Sabotase Diri yang Sering Terjadi dalam Hubungan?

Ilustrasi - Yolasite
22 November 2021 22:47 WIB Ni Luh Anggela Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kita sering mendengar ungkapan ‘sabotase diri’ ketika berbicara tentang kencan dan hubungan. Tetapi faktanya, banyak dari kita masih tidak sepenuhnya yakin seperti apa itu ‘sabotase diri’, apa yang membuat kita menyabotase hubungan kita sendiri, bagaimana kita bisa melihat perilaku sabotase diri dan yang lebih penting , bagaimana kita bisa berhenti terlibat di dalamnya.

Apa itu sabotase diri?

Sabotase diri adalah pola perilaku yang menahan seseorang dari apa yang mereka inginkan atau butuhkan, dan biasanya perilaku ini sering muncul dalam hubungan romantis.

Perilaku ini merugikan diri sendiri dan dapat mendatangkan malapetaka pada hubungan yang sehat, tetapi sayangnya orang-orang yang terlibat di dalamnya terkadang bahkan tidak menyadari bahwa mereka melakukannya.

Orang yang menyabotase diri dalam hubungan terkadang dapat menemukan diri mereka yang terus-menerus melajang, atau menemukan bahwa tidak ada hubungan serius yang bertahan karena perilaku ini.

Kita tahu, hubungan yang bertahan melalui perilaku sabotase sering kali membuat hubungan tersebut tidak sehat.

Lalu mengapa kita melakukannya?

Melansir now to love, Senin (22/11/2021), sabotase diri dalam suatu hubungan seringkali merupakan mekanisme pertahanan, sesuatu yang digunakan seseorang disadari atau tidak, untuk melindungi diri dari rasa sakit.

Anda mungkin pernah mengalami patah hati atau trauma di masa lalu dan berusaha mencegah hal itu terjadi lagi, atau mungkin Anda hanya takut untuk membuka diri terhadap rasa sakit jika hubungan itu tidak berhasil.

Perilaku ini hampir selalu didorong oleh rasa takut, tetapi mungkin sulit untuk mengenali atau mengidentifikasinya dalam suatu hubungan karena perilaku itu bukan ‘satu kali’, tetapi tersebar di banyak momen dan interaksi yang berbeda.

Tentunya, perilaku ini seringkali berujung pada perpisahan, atau bahkan tidak pernah dimulai sejak awal, tetapi dalam pikiran penyabotase diri, ini merupakan situasi yang saling menguntungkan.

Jika hubungan tersebut kandas, Anda mendapatkan ‘bukti’ bahwa Anda benar untuk melindungi diri Anda sendiri dengan menyabotase hubungan. Jika hubungan tersebut berhasil, Anda merasa ‘menang’ karena hubungan tersebut berhasil meski dengan cara sabotase.

Bagaimana kita bisa mengidentifikasi sabotase diri?

Menurut penelitian dari University of Southern Queensland yang dibagikan dalam The Conversation, ada tiga pola utama yang diikuti oleh orang-orang yang menyabotase diri sendiri dalam hubungan.

Pola-pola ini adalah: defensif, masalah kepercayaan dan keterampilan hubungan yang buruk.

1. Defensif

Menemukan diri Anda memasang tembok dalam hubungan Anda? Ini bisa menjadi pembelaan diri, yang seringkali terasa naluriah, sampai pada titik dimana beberapa orang tidak menyadari bahwa mereka melakukannya.

Mereka yang terlibat dalam pola perilaku defensif biasanya ingin melindungi diri mereka dari ancaman yang dirasakan, seperti patah hati, penolakan, pengabaian, kritik atau hal lain dalam hubungan.

2. Masalah kepercayaan

Ini sering bermanifestasi sebagai rasa takut menjadi rentan atau jujur, serta kecemburuan atau ketidakpercayaan terhadap pasangan, seperti salah satu pasangan yang selalu menganggap yang lainnya selingkuh, meskipun tidak ada bukti apapun.

Mereka yang berjuang dengan ini, di masa lalu sering mengalami pengkhianatan atau kepercayaan mereka dilanggar dan takut hal itu kembali terjadi. Jadi, mereka memilih untuk tidak percaya dan menutup diri dari hubungan dan pasangan.

3. Kurang pengalaman

Beberapa orang mungkin hanya kurang pengalaman atau keterampilan yang didapat melalui hubungan yang sehat, dan ini dapat dengan cepat menyebabkan mereka melakukan sabotase diri.

Karena mereka memiliki pengalaman positif yang terbatas untuk diambil, hubungan dapat terasa berlebihan dan banyak orang yang terlibat dalam pola ini akan menutup diri dari hubungan sepenuhnya.

Lalu, bagaimana kita bisa menghentikan perilaku ini?

Apapun masalahnya, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi masalah, lalu mulai bekerja untuk mengatasinya.

Bagi Anda yang menyabotase diri sendiri, Anda mungkin dapat memulainya dengan mendapatkan wawasan yang jujur tentang pola perilaku apa yang Anda tunjukkan dan mengapa Anda terus terlibat di dalamnya.

Selain itu, Anda juga dapat memeriksa apa yang Anda harapkan dari hubungan dan pasangan, dan apakah itu berkontribusi pada sabotase diri Anda. Misalnya, mengharapkan pasangan untuk memberi Anda akses ke semua perangkat mereka karena masalah kepercayaan Anda mungkin tidak masuk akal.

Melibatkan pasangan Anda juga penting, karena mereka dapat membantu Anda untuk mengidentifikasi dan mengatasi perilaku yang mungkin menyabotase hubungan. Jika ternyata cara ini tidak membantu, Anda bisa mendapatkan bantuan dari luar seperti terapis, psikolog dan lainnya.

Sumber : Bisnis.com