Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati Cantengan

Menggigit kuku - ilustrasi
23 November 2021 23:27 WIB Mia Chitra Dinisari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pernahkah Anda mendengar kerabat Anda sakit cantengan, atau bahkan Anda sendiri mengalaminya?

Sakit yang satu ini, bisa menimbulkan nyeri yang tidak tertahan, dan membuat aktivitas terganggu.

Mengutip laman resmi Ciputra Hospital, cantengan merupakan nama lain dari paronikia. Paronikia merupakan infeksi kulit yang terjadi di sekitar kuku jari tangan atau kuku kaki. Cantengan terbagi dalam dua jenis, akut dan kronis.

Cantengan akut hanya terjadi dalam kurun waktu sebentar dan dapat diobati dengan mudah. Sedangkan cantengan kronis, dapat terjadi sampai berminggu-minggu lamanya dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk pengobatannya. Cantengan yang tidak segera diatasi, dapat menyebabkan kulit meradang, bengkak, dan muncul rasa tidak nyaman di sekitar kuku. Pembengkakan yang disertai nanah juga dapat terjadi di area tersebut.

Penyebab utama cantengan karena adanya infeksi bakteri dan jamur yang berkembang di bawah kulit. Infeksi dapat terjadi ketika kulit di sekitar kuku rusak dan terbuka. Dengan kondisi kulit yang terluka, bakteri dapat lebih mudah masuk.  Bakteri yang umum menyebabkan cantengan adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes.

Cantengan dapat terjadi ketika Anda sering menggigit kuku, membiarkan kuku tumbuh terlalu panjang sehingga tumbuh ke dalam, menggunakan alas kaki yang terlalu sempit serta memotong kuku terlalu pendek. Kondisi lain seperti tangan yang sering basah dan paparan bahan kimia yang tinggi, juga dapat menjadi penyebab munculnya cantengan.

Gejala Cantengan

Apa saja gejala cantengan yang dapat Anda amati? Gejala utama yang dapat Anda amati adalah daerah jari sekitar kuku terasa nyeri, bengkak, dan berwarna merah. Kuku juga mengalami perubahan. Contohnya dari segi warna seperti tidak normal, bentuknya tidak biasa, dan kuku terlepas dari bantalannya. Selain itu, ada benjolan yang berisi nanah, akibat infeksi bakteri yang berkembang di bawah kulit. Jika infeksi bakteri ini tidak segera diatasi dapat menimbulkan gejala lain seperti:

Demam, menggigil
Muncul garis-garis merah di sepanjang kulit
Kuku terasa keras
Nyeri pada sendi dan otot
Jika Anda mengalami beberapa gejala di atas, dan tidak segera sembuh dalam hitungan minggu atau bulan, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara Mengobati Cantengan

Untuk mengobati cantengan, tergantung pada kondisi pasien. Jika sudah sampai bernanah, dokter akan mengeluarkan nanah dari benjolan di sekitar kuku Anda. Selain mengeluarkan nanah, dokter juga mengambil sampel untuk mengetahui penyebab terjadinya cantengan atau infeksi. Tujuannya agar dokter dapat menentukan pengobatan yang tepat untuk infeksi Cantengan Anda. Cantengan yang bersifat kronis dapat lebih kompleks cara pengobatannya.

Dokter juga akan meresepkan obat anti jamur untuk dikonsumsi jika terdapat kecurigaan infeksi disebabkan oleh jamur. Selain itu, dokter juga menganjurkan Anda agar menjaga area cantengan tetap kering. Pengangkatan dan pembedahan kuku bisa jadi dilakukan untuk mengatasi cantengan yang sudah parah. Jika Anda mengalami gejala cantengan segera konsultasikan dengan dokter agar terhindar dari risiko lain.

Anda dapat mengonsumsi obat antibiotik dan obat anti jamur sesuai resep dokter.

Lalu bagaimana jika kuku Anda mengalami cantengan? Mudah saja, sediakan satu ember air hangat untuk kaki Anda berendam. Kegiatan ini dapat Anda lakukan 2 sampai 3 kali sehari, untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri di area kuku.Jika kondisi cantengan sudah sangat parah. Anda juga dapat mengonsumsi antibiotik yang telah diresepkan dokter dan obat anti jamur.

Apabila kuku yang cantengan sudah sembuh, hindari menggigit kuku terlalu sering, memotong kuku sampai ke dalam, dan membiarkan kuku berendam terlalu sering di air. Kondisi ini dapat memicu cantengan Anda muncul lagi. Pada kondisi yang cukup berat, dokter juga dapat mempertimbangkan perlunya tindakan pencabutan kuku. Namun sebaiknya tetap berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter yang menangani.

Sumber : Bisnis.com