Advertisement

Benarkah Cara Bernapas Berpengaruh ke Bentuk Wajah Manusia?

Ni Luh Anggela
Kamis, 25 November 2021 - 21:27 WIB
Bhekti Suryani
Benarkah Cara Bernapas Berpengaruh ke Bentuk Wajah Manusia? Aneka bentuk wajah - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Percaya atau tidak, ternyata cara kita bernapas dapat memengaruhi bentuk wajah.

Umumnya, manusia bernapas melalui hidung tetapi ada pula orang-orang yang bernapas melalui mulut mereka.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Kebiasaan ini, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin Arthur S, bisa muncul karena mungkin mereka pernah mengalami gangguan pernapasan yang berkepanjangan sehingga perlu dikompensasi melalui pernapasan mulut.

Selain udara jadi tidak tersaring dengan bulu-bulu hidung, bernapas melalui mulut ternyata juga dapat menyebabkan perubahan pada bentuk wajah. Akibatnya, wajah lebih panjang, cenderung turun dan garis rahang menjadi lebih bulat.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

“Kebiasaan bernapas melalui mulut menyebabkan berbagai macam efek yang saling berhubungan,” kata Arthur melalui akun Instagramnya, Kamis (25/11/2021).

Ketika kita bernapas melalui mulut, otot pipi harus bekerja lebih keras.

Saat otot pipi bekerja lebih keras, tekanan pada rahang atas dan bawah juga ikut bertambah.

Tekanan pada rahang inilah yang akan membuat wajah menjadi lebih panjang dan mengubah bentuk susunan gigi.

“Rahang dan posisi gigi yang berubah menjadi lebih sempit, membuat ruang untuk lidah juga menjadi sempit dan membuat lidah harus bersandar ke dasar mulut, padahal biasanya di langit-langit mulut,” jelasnya.

Terutama jika keadaan ini sudah terjadi saat masih usia anak-anak , pertumbuhan wajahnya pun akan jadi menyesuaikan dengan semua perubahan ini.

Berdasarkan sebuah studi di tahun 2016, pernapasan mulut telah dikaitkan dengan kondisi mulut seperti mulut dan bibir kering, karies gigi, penyakit periodontal, halitosis sekunder, deformitas kraniofasial dan maloklusi, serta menelan yang abnormal. Ini juga terkait dengan kondisi medis seperti perubahan postur kepala, leher dan tubuh, apnea tidur obstruktif, kinerja fisik dan pembelajaran yang buruk, dan asma.

Di antara mekanisme fisiopatologis, yang dapat menjelaskan hubungan tersebut adalah hipoksemia kronis dengan hiperkapnia, peningkatan kehilangan air dan energi, penurunan pelepasan hormon pertumbuhan, pelepasan mediator inflamasi dan oksidatif, beban besar pada otot punggung dan leher bagian atas, deformitas pada saluran napas dan deformitas kraniofasial, menurut studi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Jadwal KRL Jogja Solo Jumat 3 Februari 2023

Jogja
| Jum'at, 03 Februari 2023, 04:57 WIB

Advertisement

alt

Kepala Otorita IKN Enggan Komentari Gaji Rp172 Juta per Bulan

News
| Jum'at, 03 Februari 2023, 04:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement