Advertisement

Generasi Milenial Lebih Cepat Botak

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 03 September 2022 - 16:47 WIB
Lajeng Padmaratri
Generasi Milenial Lebih Cepat Botak Ilustrasi botak. - Pixabay

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJAPernahkah Anda memperhatikan orang yang lebih muda tampaknya kehilangan rambut mereka alias bitak lebih cepat? Meski kebotakan biasanya dikaitkan dengan usia lanjut, semakin banyak milenial yang mengatakan bahwa mereka bergulat dengan kerontokan rambut.

Rambut rontok sejatinya merupakan hal yang wajar. Biasanya, rambut Anda tumbuh, kemudian berhenti tumbuh, dan akhirnya rontok. Proses berkelanjutan ini normal bagi seseorang untuk kerontokan antara 50-100 helai rambut setiap hari.

BACA JUGA: BCS Tarik Diri 4 Laga Ke Depan, Ini Tanggapan Manajemen PSS Sleman

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Namun, tampaknya anak muda saat ini mengalami kerontokan lebih dari itu. Belum lagi keluhan mereka tentang rambut yang menipis. Dilansir dari Healthline, penelitian yang dilakukan di Tsinghua University, Beijing, China pada 2018 menunjukkan bahwa anak muda China berusia 20 tahunan mengalami kebotakan lebih cepat daripada generasi sebelumnya.

Survei yang dilakukan terhadap 4.000 mahasiswa itu menghasilkan data bahwa hampir 60% responden survei kehilangan banyak rambut. Sementara, 25% responden menyatakan tidak menyadari kerontokan rambut hingga mereka diberi tahu teman atau keluarganya. 40% responden menjawab bahwa mereka cukup menyadari garis rambut mereka yang menipis.

Fu Lanqin, dokter kulit di Beijing mengatakan bahwa terjadi peningkatan generasi milenial yang mencari perawatan rambut rontok. Menurutnya, pasien kehilangan rambut mereka sejak usia 21 atau 22 tahun.

"Kondisi kerontokan rambut ini menjadi jelas di usia 24-25 tahun. Menurut saya, generasi ini kehilangan rambut lebih cepat dari generasi sebelumnya," jelasnya.

Hal ini pun terjadi di Amerika Serikat. Penata rambut di New York Angelo David mengatakan kepada New York Post bahwa semakin banyak klien mudanya yang mengkhawatirkan dengan rambut yang menipis.

Andrea Hui, seorang dokter kulit di San Fransisco, juga mengaku bahwa pria dan wanita berusia 18 tahun mulai banyak yang meminta bantuannya untuk mengatasi kerontokan.

Advertisement

Perubahan hormon, penyakit autoimun, gangguan tiroid, dan stres adalah beberapa penyebab rambut rontok yang diketahui pada pria dan wanita muda. Selain itu, populernya diet vegetarian dan vegan juga disebut berkontribusi pada kerontokan rambut.

Riset pada 2017 dari Emily L. Guo, seorang dokter residen di Baylor College of Medicine Texas, menunjukkan minim konsumsi protein serta kekurangan zinc, vitamin D, dan nutrisi lainnya dapat berdampak negatif pada pertumbuhan rambut.

Generasi milenial pun lebih sensitif terhadap perubahan rambut. Media sosial membuat mereka meningkatkan fokus lebih untuk penampilan.

Advertisement

Doris Day dari Day Dermatology Aesthetics meyakini bahwa stres adalah faktor yang signifikan yang menyebabkan kerontokan rambut milenial. "Stres dapat mengganggu proses pertumbuhan rambut dengan mengeluarkan rambut dari fase pertumbuhan sebelum waktunya. Ini dapat menyebabkan jumlah rambut rontok yang lebih tinggi," kata Day.

Laporan dari American Psychological Association (APA) menyebut penelitian menunjukkan hubungan antara usia dan stres. Peneliti menemukan bahwa anggota generasi X dan milenial melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi daripada generasi yang lebih tua. Mereka juga tampaknya memiliki lebih banyak kesulitan untuk berhasil mengatasinya.

BACA JUGA: Lahan Jalan Tol Jogja-Bawen Sekitar Selokan Mataram Diperluas, 2 Warga Ini Mulai Gelisah

Selain itu, perawatan rambut yang semakin beragam juga berkontribusi terhadap kerontokan. Saat ini banyak dilakukan bleaching dan pewarnaan yang berlebihan, sehingga hal itu dapat merusak rambut secara serius. "Berat dan tegangnya ekstensi rambut juga melemahkan folikel, menyebabkan lebih banyak rambut rontok," urainya.

Advertisement

Day pun menyarankan bagi siapapun yang mengeluhkan kebotakan bisa menemui dokter kulit untuk dicarikan solusinya. Intervensi medis dan nutrisi dapat membantu hal itu selama ini.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Kesadaran Mengelola Sampah Plastik Masih Rendah, Masyarakat Perlu Diedukasi

Jogja
| Rabu, 28 September 2022, 07:17 WIB

Advertisement

alt

Top 7 News Harianjogja.com Rabu, 28 September 2022

News
| Rabu, 28 September 2022, 07:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement