Advertisement

Makanan Alami Ternyata Tidak Selalu Sehat

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 03 September 2022 - 14:27 WIB
Budi Cahyana
Makanan Alami Ternyata Tidak Selalu Sehat Ilustrasi susu sapi - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJASelama ini, kita meyakini makanan alami merupakan makanan yang lebih sehat dibandingkan makanan olahan yang diproduksi massal di pabrik. Namun, hal itu tidak selalu terjadi.

Makanan yang alami tidak selalu sehat. Dalam beberapa kondisi, pengolahan makanan justru bisa berdampak baik bagi kesehatan. Ada makanan alami yang mengandung racun, dan pengolahan yang minimal dapat membuatnya jadi lebih aman.

BACA JUGA: BCS Tarik Diri 4 Laga Ke Depan, Ini Tanggapan Manajemen PSS Sleman

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Misalnya, kacang merah yang mengandung lektin sehingga dapat menyebabkan muntah-muntah dan diare. Senyawa itu dipisahkan dari kacang dengan merendamnya semalaman dan merebusnya dalam air mendidih.

Pemrosesan juga membuat susu sapi aman dikonsumsi. Pasteurisasi susu telah dilakukan sejak akhir 1800-an, bertujuan untuk mematikan bakteri berbahaya. Sebelum masa itu, susu didistribusikan secara lokal, karena tidak ada pendingin di rumah-rumah.

"Sapi di kota diperah setiap hari, dan orang-orang membawa susu dengan gerobak ke daerah mereka untuk menjualnya," kata pakar sains makanan dari Universitas Wisconsin-Madison, John Lucey, dikutip dari BBC.

Dengan adanya pengantaran susu yang semakin jauh, Lucey menambahkan, justru ada waktu lebih bagi patogen untuk berkembang biak. Studi ilmiah menunjukkan beberapa organisme dalam susu dapat berbahaya, sehingga perlu dipanaskan melalui pasteurisasi.

"Sebelum Perang Dunia Kedua, sekitar seperempat penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air berasal dari susu. Sekarang jumlahnya kurang dari satu persen," imbuhnya.

Pemrosesan juga membantu mempertahankan nutrisi dalam makanan. Misalnya, pembekuan, yang dikategorikan sebagai pengolahan minimal, memungkinkan buah dan sayuran untuk mempertahankan nutrisi yang dapat terdegradasi saat disimpan di dalam lemari pendingin.

Advertisement

"Seringkali, sayuran langsung dibekukan setelah dipanen. Daripada dipetik, diantarkan, dan kemudian ditaruh di rak-rak pasar, membuat sayuran kehilangan nutrisi mereka," kata Manajer European Food Information Council, Christina Sadler.

Pada 2017, sekelompok peneliti membeli sayuran segar dari toko yang berbeda pada hari mereka membelinya dan lima hari kemudian. Mereka menganalisis kadar nutrisi sayuran, termasuk vitamin C dan folat, setelah menyimpannya di dalam lemari pendingin.

Ketika mereka membandingkan sayuran yang dibekukan dengan yang hanya didinginkan, mereka mendapati ada perbedaan kadar nutrisi yang cukup besar. Dalam beberapa kasus, menurut makalah tersebut, sayuran beku mengandung kadar nutrisi yang lebih tinggi daripada sayuran yang hanya disimpan di lemari pendingin.

Advertisement

"Ada anggapan bahwa makanan beku tidak sebaik makanan segar, tetapi itu sangat tidak tepat," kata profesor sains dan teknologi makanan di Universitas Georgia, Ronald Pegg.

Pemrosesan juga memungkinkan penambahan vitamin dan mineral, seperti vitamin D, kalsium, dan folat pada beberapa makanan proses, termasuk roti dan sereal. Upaya tersebut telah membantu menurunkan kekurangan gizi di masyarakat, meskipun tidak secara otomatis membuat makanannya mengandung nutrisi yang seimbang.

Pemrosesan juga membantu mengawetkan makanan dan membuatnya lebih gampang diakses. Memfermentasi keju, misalnya, menjaganya tetap stabil untuk waktu lama, dan dalam beberapa kasus, mengurangi kadar laktosa, sehingga aman bagi orang-orang dengan intoleransi laktosa ringan.

Di masa lalu, tujuan utama pengolahan makanan ialah membuatnya lebih tahan lama. Profesor sains makanan di Universitas Reading, Gunter Kuhnle, menuturkan bahwa selama berabad-abad, mengawetkan makanan dengan menambah bahan-bahan seperti gula atau garam sangat penting untuk bertahan hidup di musim dingin.

Advertisement

"Karena pemrosesan makanan, kita bisa bertahan hidup sampai sekarang, karena itu mencegah kita kelaparan. Banyak makanan perlu diproses supaya bisa dimakan, seperti roti. Kita tidak bisa bertahan hidup hanya dengan gandum," jelasnya.

Zat Tambahan

Namun makanan ultra-proses yang terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari makanan dan zat tambahan, umumnya tidak baik untuk kita. Berbagai studi menunjukkan bahwa zat tambahan dapat mengubah komposisi bakteri perut dan menyebabkan inflamasi di dalam tubuh kita, yang dikaitkan dengan risiko tinggi penyakit jantung.

Advertisement

Penelitian juga menunjukkan bahwa makanan ultra-proses cenderung dikonsumsi secara berlebihan. Berbagai studi menunjukkan bahwa orang yang memakan makanan ultra-proses mengonsumsi lebih banyak kalori secara keseluruhan dan menambah berat badan, serta memiliki risiko tinggi menderita penyakit jantung.

Satu studi skala kecil dari tahun 2019 menemukan bahwa ketika orang-orang memakan hidangan yang terdiri dari makanan olahan selama dua minggu, mereka mengonsumsi 500 kalori lebih banyak per hari daripada ketika mereka memakan makanan yang tidak diolah selama dua minggu. Berat badan mereka juga bertambah rata-rata satu kilogram dengan pola makan ultra proses.

Apalagi, studi yang diterbitkan di Cambridge University Press oleh tim Cherie Russell menemukan bahwa pemanis dalam makanan kemasan hasil ultra-proses semakin meningkat. Studi tersebut melihat kandungan dalam makanan dan minuman kemasan dari tahun 2007 hingga 2019.

BACA JUGA: Lahan Jalan Tol Jogja-Bawen Sekitar Selokan Mataram Diperluas, 2 Warga Ini Mulai Gelisah

Dilansir dari Science Alert, studi tersebut mengungkapkan bahwa volume pemanis non-nutrisi per orang dalam minuman sekarang 36% lebih tinggi secara global. Sementara, gula yang ditambahkan dalam makanan kemasan 9% lebih tinggi.

Meski beberapa makanan ultra proses dapat dikaitkan dengan kesehatan yang buruk, tetapi tidak semua makanan olahan bisa dianggap sama. Sayuran beku, susu pasteurisasi, atau kentang rebus dapat lebih baik bagi kita daripada versi yang belum diolah. 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Begini Keterangan Dokter tentang Anak Difabel di Bantul yang Diduga Diperkosa Tetangga

Bantul
| Senin, 26 September 2022, 11:17 WIB

Advertisement

alt

Jokowi Sebut Situasi Global Tahun Depan Bakal Lebih Gelap, tapi Indonesia Punya Peluang

News
| Senin, 26 September 2022, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement