Advertisement

Memperkecil Risiko Meninggal Dunia Usai Olahraga

Mia Chitra Dinisari
Kamis, 20 Oktober 2022 - 03:27 WIB
Lajeng Padmaratri
Memperkecil Risiko Meninggal Dunia Usai Olahraga Ilustrasi lomba lari - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus meninggal setelah berolahraga banyak terjadi di berbagai belahan dunia.

Dalam ajang London Marathon yang terselenggara awal Oktober lalu, seorang pelari meninggal pada jarak 3,22 km menjelang garis finish.

Advertisement

Pria berusia 32 tahun itu meninggal dunia setelah pingsan saat mengikuti maraton itu. Saat dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans, nyawanya tidak tertolong.

Selama ini, olahraga dianggap sebagai kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan. Bila dilakukan secara rutin, olahraga memang dapat menjaga tubuh kita tetap sehat.

Namun, beberapa kali kita mendengar kasus orang yang mendadak meninggal setelah melakukan latihan olahraga. Lantas, apa penyebabnya?

Dikutip dari Bisnis.com yang melansir Halodoc, salah satu penyakit yang sering menjadi penyebab di balik kematian sehabis olahraga ini adalah aritmia.

Salah satu penyebab seseorang bisa meninggal secara mendadak setelah berolahraga adalah karena jantung berhenti bekerja secara tiba-tiba. Melakukan kegiatan olahraga dengan intensitas tinggi dalam waktu lama bisa memicu hal tragis ini terjadi.

Namun, salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab seseorang bisa mengalami kematian jantung mendadak atau sudden cardiac death (SCD) adalah aritmia.

Apa Itu Aritmia?

Aritmia merupakan kondisi ketika jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, ataupun tidak teratur. Itulah mengapa aritmia dikenal juga sebagai gangguan irama jantung.

Kondisi ini bisa terjadi karena impul elektrik yang berfungsi untuk mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik. Akibatnya, detak jantung seseorang bisa menjadi sangat lambat, bahkan berhenti berdetak. Inilah yang menyebabkan seseorang meninggal secara mendadak setelah berolahraga.

Ada beberapa jenis aritmia yang biasanya sering terjadi:

1. Bradikardia.

Kondisi ketika irama jantung lebih lambat dari yang seharusnya atau tidak teratur.

2. Blok jantung

Kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat dan bisa menyebabkan seseorang pingsan.

3. Takikardia supraventrikular

Kondisi ketika jantung yang berdetak cepat secara tidak normal.

4. Fibrilasi atrium

Kondisi ketika jantung berdetak secara cepat, meskipun kamu sedang beristirahat.

5. Fibrilasi ventrikel

Jenis aritmia ini bisa menyebabkan pengidapnya hilang kesadaran atau meninggal secara mendadak. Hal ini karena jantung berdetak terlalu cepat dan tidak teratur.

Penyebab Aritmia

Berikut adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami aritmia:

1. Konsumsi narkoba

Obat-obatan terlarang, seperti amfetamin dan kokain bisa mengganggu kinerja jantung secara langsung, sehingga bisa menyebabkan seseorang mengalami fibrilasi ventrikel dan jenis aritmia lainnya.

2. Efek samping obat-obatan

Bukan hanya narkoba saja, obat-obatan biasa, seperti obat pilek dan obat batuk yang dijual bebas di apotek juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami aritmia.

3. Kadar elektrolit dalam darah tidak seimbang

Kadar elektrolit, seperti kalium, natrium, kalsium, dan magnesium dapat mengganggu impuls listrik jantung, sehingga mengakibatkan aritmia.

4. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol

Kebiasaan tidak sehat yang satu ini juga bisa mengganggu impuls listrik jantung, sehingga mengakibatkan fibrilasi atrium. Terlalu banyak mengonsumsi kafein atau nikotin. Dua kandungan tersebut bisa menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dari normal.

5. Gangguan kelenjar tiroid

Kelenjar tiroid yang bekerja terlalu aktif atau kurang aktif bisa memicu terjadinya aritmia.

Cara Mencegah Aritmia

Dengan mengetahui hal-hal yang menjadi penyebab aritmia, maka kamu bisa dengan mudah menentukan langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah aritmia. Hampir sebagian besar penyebab aritmia adalah gaya hidup tidak sehat.

Karena itu, berikut pola hidup sehat yang bisa kamu terapkan agar terhindar dari aritmia:

1. Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.

2. Menjaga berat badan tetap ideal dengan berolahraga secara rutin.

3. Menghindari atau mengurangi stres.

4. Membatasi konsumsi minuman keras dan berkafein.

5. Berhenti merokok.

6. Tidak sembarangan mengonsumsi obat-obatan tanpa petunjuk dari dokter, terutama obat batuk dan pilek, karena jenis obat-obatan tersebut mengandung zat stimulan yang bisa memicu jantung berdetak lebih cepat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

2023 Ada 1.111 Tempat Ibadah di DIY yang Terima Bansos

Jogja
| Jum'at, 27 Januari 2023, 09:07 WIB

Advertisement

alt

43,76% Masyarakat Belum Daftar Ulang Kendaraan, Ini Bahayanya..

News
| Jum'at, 27 Januari 2023, 10:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement