Advertisement

Demi Menikahkan Kakak Laki-Lakinya, Perempuan Ini Mengumpulkan Uang Selama 12 Tahun

Lajeng Padmaratri
Kamis, 01 Desember 2022 - 17:47 WIB
Lajeng Padmaratri
Demi Menikahkan Kakak Laki-Lakinya, Perempuan Ini Mengumpulkan Uang Selama 12 Tahun Perempuan di China yang bekerja selama 12 tahun untuk memastikan saudara laki/lakinya memiliki cukup kekayaan untuk mendapatkan seorang istri. / Oddity Central

Advertisement

Harianjogja.com, ANHUI—Seorang wanita di China baru-baru ini memicu kontroversi di dunia maya setelah mengaku bahwa dia telah menghabiskan 12 tahun terakhir dalam hidupnya untuk mengumpulkan uang demi memastikan kakak laki-lakinya bisa menikah.

Melansir Oddity Central, bukan rahasia lagi bahwa mendapatkan wanita di China untuk dinikahi lebih sulit daripada di kebanyakan negara lain. Kondisi ini merupakan salah satu efek tak terduga dari kebijakan satu anak yang terkenal buruk di negara Asia itu sehingga menyebabkan ketidakseimbangan gender.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Selama beberapa dekade, banyak pasangan, terutama di daerah pedesaan, mengincar anak laki-laki. Mereka tak segan-segan beralih ke aborsi dan bahkan pembunuhan bayi untuk memastikan bahwa anak tunggal mereka adalah laki-laki.

Kondisi itu didukung anggapan bahwa anak laki-laki cukup kuat untuk bekerja dan lebih mungkin untuk sukses guna merawat orang tua mereka di kemudian hari. Tak heran jika hal itu menciptakan ketidaksetaraan gender yang serius di China, dengan lebih banyak bujangan untuk setiap wanita, yang membuat pria sangat sulit untuk mendapatkan pengantin. Jadi dalam beberapa kasus, keluarga mereka menawarkan dukungan finansial, untuk meningkatkan peluang mereka menemukan pengantin yang cocok.

Salah satunya seperti yang dilakukan seorang wanita berusia 33 tahun dari provinsi Anhui, di China timur. Ia dilaporkan mendedikasikan 12 tahun terakhir hidupnya untuk memastikan saudara laki-lakinya memiliki cukup kekayaan untuk mendapatkan seorang istri.

Wanita yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kepada Miaowen Video bahwa dia telah menjalankan sebuah restoran kecil yang menjual pancake Cina dengan omzet bulanan 100.000 yuan atau setara Rp220 juta. Namun, alih-alih menggunakan keuntungan untuk dirinya sendiri selama 12 tahun terakhir, dia justru berinvestasi untuk rumah seluas 129 meter persegi dan mobil baru untuk saudara laki-lakinya. Dia juga akan menghadiahkan restorannya kepada kakaknya.

“Saya akan memikirkan diri saya sendiri setelah kakak saya menikah. Pernikahan saya bisa menunggu,” kata wanita lajang itu kepada SCMP.

Ia bahkan mengaku menahan keinginannya untuk kepentingan diri sendiri, termasuk saat ingin membeli pakaian. Wanita itu juga mengatakan dia belum mendapatkan rumah untuk dirinya sendiri. Ia menegaskan kembali bahwa kakaknya adalah prioritas dan dia akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengkhawatirkan dirinya sendiri setelah sang kakak menikah.

Pandangannya itu kemudian memicu perdebatan di media sosial di China. Sebagian besar warganet mengungkapkan rasa kasihan padanya, sementara beberapa bahkan menuduhnya memberikan contoh yang buruk.

“Apakah kakaknya tidak bisa bekerja atau semacamnya? Ini tidak adil bagi saudari yang malang!” komentar salah satu orang.

“Semakin banyak dia memberi kepada saudara laki-lakinya, semakin banyak saudara laki-lakinya menerima begitu saja,” tulis orang lain.

Menanggapi semua kritik, wanita itu hanya mengatakan bahwa orang tidak tahu apa yang dialami keluarganya selama bertahun-tahun sehingga mereka tidak bisa memahami motifnya.

“Kehidupan setiap orang berbeda. Mereka mungkin tidak mengalami kesulitan seperti yang kita alami saat kecil, jadi wajar jika tidak dipahami,” ujarnya.

Tak hanya sulit mendapatkan pengantin, tradisi Tionghoa juga membuat calon pengantin pria diharuskan mempersiapkan mahar atau hadiah dengan nilai yang tinggi untuk meminang pujaan hatinya. Nilai tradisi ini rupanya telah berubah secara signifikan selama beberapa dekade terakhir. 

Pada tahun 70-an, hadiah seperti tempat tidur sangatlah wajar. Kemudian memasuki tahun 80-an, hadiah itu umumnya adalah barang elektronik rumah tangga seperti TV dan lemari es. Namun, sejak ledakan ekonomi yang dimulai pada 90-an, nilai tradisi ini meningkat seharga mobil bahkan rumah.

Bujangan dari keluarga miskin jadi memiliki peluang yang sangat rendah untuk menemukan pengantin, sehingga beberapa daerah terpaksa mengimpor wanita muda dari negara tetangga. Namun, beberapa keluarga sangat bertekad untuk melihat pria lajang mereka menemukan pengantin dengan cara konvensional, sehingga mereka mengorbankan harta milik mereka sendiri seperti perempuan itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Oddity Central

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

ATF Dimanfaatkan Destinasi Wisata Jogja Gaet Wisatawan Asing

Jogja
| Minggu, 29 Januari 2023, 20:07 WIB

Advertisement

alt

Pendaki asal Madiun Ditemukan Tak Bernyawa di Puncak Gunung Lawu

News
| Minggu, 29 Januari 2023, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement