Advertisement

Sering Kedutan, Waspadai Gangguan Saraf yang Bikin Wajah Perot

Sunartono
Minggu, 04 Desember 2022 - 14:07 WIB
Budi Cahyana
Sering Kedutan, Waspadai Gangguan Saraf yang Bikin Wajah Perot Seorang dokter menunjukkan proses operasi yang disiarkan secara langsung lewat layar, di RS JIH, Sabtu (3/12/2022). - Ist.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kedutan pada wajah seperti mata atau pipi sering dianggap biasa. Padahal kedutan bisa menjadi awal gangguan saraf. Kedutan dapat mengakibatkan wajah menjadi perot atau dikenal dengan hemifacial spasm.

Berdasarkan data Kortex Brain Spine, kasus gangguan saraf pada wajah terungkap pada 4.825 orang di Indonesia. Dari jumlah, baru sekitar 1.425 kasus ditangani dengan operasi. Di Jawa Tengah misalnya, dari kurun waktu 2017-2022, pasien gangguan ini mencapai 867 orang. Di DKI Jakarta sebanyak 966 kasus, sedangkan DIY belum ada data riil meski diperkirakan cukup tinggi.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

BACA JUGA: Kerusakan Saraf Gejala Awalnya Kesemutan

"Penderita wajah perot terjadi karena menyatunya saraf nomor tujuh yang berfungsi mengatur gerakan wajah dengan pembuluh darah pada otak. Sehingga gerakan pada wajah tidak terkendali, dampaknya wajah jadi perot," kata Dokter Ahli Bedah Saraf Kortex Physician Network Dian Prasetyo di RS JIH, Sabtu (3/12/2022).

Ia menambahkan kedutan yang semakin sering terjadi membuat otot wajah menjadi tegang atau dikenal dengan istilah hemifacial spasm karena pembuluh darah lengket dengan syaraf ketujuh. Kasus ini dapat menimpa siapa saja dengan usia beragam, akan tetapi lebih banyak terjadi pada perempuan.

"Selain menurunkan kualitas hidup, gangguan saraf ini juga bisa menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Penanganan harus dilakukan dengan operasi yang saat ini sudah ada di RS JIH dengan peralatan canggih dan bisa dipantau secara langsung lewat kamera oleh anggota keluarga," katanya.

Pemulihan gerakan wajah agar menjadi normal kembali harus dilakukan melalui operasi di area batang otak. Operasi dikenal dengan microvascular decompression (MVD) atau menggunakan teknik operasi lubang kunci (keyhole surgery). Cara itu dilakukan dengan bantuan mikroskop khusus dan alat monitoring di kamar operasi. Adapun proses operasi butuh waktu sekitar 70 menit.

BACA JUGA : Gadget Berdampak Buruk bagi Syaraf, Ini Cara Mengobatinya

“Melalui lubang kecil seukuran lubang kunci, dokter bisa memisahkan saraf nomor tujuh dengan memasang serabut agar tidak lengket dengan pembuluh darah. Operasi bedah saraf ini minim risiko dan tidak mengeluarkan darah,” kata Ahli Bedah Saraf Rachmat Andi Hartanto.

Ketua Komunitas Brain and Spine yang pernah menjalani operasi serupa, Lilih Dwi Priyanto, mengakui penah mengalami gangguan tersebut dan kualitas hidupnya menurun. Ceramah di berbagai kota lewat pekerjaannya di Kemendikbud, perlahan harus ia kurangi. Sampai akhirnya pada 2007 silam ia dioperasi dan dapat sembuh seperti sedia kala.

“Intinya harus melalui edukasi, karena memang awalnya dianggap biasa saja ketika terjadi kedutan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

ATF Dimanfaatkan Destinasi Wisata Jogja Gaet Wisatawan Asing

Jogja
| Minggu, 29 Januari 2023, 20:07 WIB

Advertisement

alt

Pendaki asal Madiun Ditemukan Tak Bernyawa di Puncak Gunung Lawu

News
| Minggu, 29 Januari 2023, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement