Fase Menolak Kenyataan Ada pada Orang yang Bersedih

Ilustrasi - Reuters
24 Januari 2019 12:35 WIB Tika Anggreni Purba Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Penyangkalan (denial) merupakan mekanisme pertahanan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang menyedihkan.

Sayangnya, tidak selamanya penyangkalan ini berhasil mempertahankan kekuatan diri. Ada kalanya, penyangkalan mengganggu kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan.

Pada fase denial, Anda sedang berusaha melindungi diri sendiri dengan menolak kenyataan. Dalam masa ini Anda tidak bisa menerima kebenaran mengenai sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Menurut laporan situs kesehatan Mayoclinic.org, pada jangka pendek denial memang diperlukan dan membawa efek baik. Dengan denial, Anda dapat menyesuaikan diri dengan masalah yang menyakitkan.

Bagaimanapun, denial merupakan cara untuk mengatasi konflik emosional, stres, pikiran yang menyakitkan, dan kecemasan. Anda boleh-boleh saja menyangkal apapun yang membuat Anda merasa rentan entah itu penyakit, gangguan mental, masalah keuangan, dan konflik lainnya.

Pada saat menyangkal, Anda akan mengalami masa di mana tidak bisa mengakui situasi yang sulit, tidak mau menghadapi fakta dari sebuah masalah, mengecilkan konsekuensi dari masalah, dan sebagainya. Dalam jangka pendek, penyangkalan akan membantu Anda untuk berpikir lebih logis.

Namun, apabila dilanjutkan dalam jangka panjang, penyangkalan diri dapat membawa kerugian. Apabila Anda menolak kenyataan terlalu panjang. Anda akan cenderung melarikan diri dari masalah dan menyangkal persoalan itu sampai selamanya.

Contoh kasusnya misalnya, seorang anak muda menyaksikan kekerasan di depan matanya tetapi mengaku tidak terpengaruh oleh kejadian itu. Atau sebagian lagi, seorang lanjut usia sudah sekarat dan hampir meninggal tetapi menolak untuk berobat. Kemudian, ada lagi seseorang yang bersikeras untuk bekerja sekalipun dia sedang sakit. Banyak juga orang dalam fase denial membuat banyak kartu kredit padahal dia tidak sanggup untuk membayar tagihannya.

Dalam fase jangka panjang, orang yang denial akan selalu merasa baik-baik saja untuk sesuatu yang tidak baik. Denial adalah senjata yang baik kalau digunakan dalam waktu sementara. Akan tetapi dalam jangka panjang, denial bisa menjadi bumerang dalam kesehatan mental.

Apabila Anda sedang terjebak dalam fase denial yang berkelanjutan, ada baiknya membicarakan hal tersebut dengan profesional di bidangnya. Mereka akan membantu Anda menemukan cara yang sehat untuk mengatasi situasi yang menyakitkan tanpa harus menyangkal keadaan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia