Kleptomania ada di Sekitar Anda, Ini Ciri-Cirinya

Ilustrasi kleptomania - Istimewa
08 Februari 2019 09:35 WIB Tika Anggreni Purba Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kleptomania merupakan kondisi seseorang yang memiliki keinginan yang tidak tertahankan untuk mencuri.

Mereka akan mencuri barang yang tidak dibutuhkannya, padahal mereka mampu untuk membelinya. Orang kleptomania merasa lebih lega ketika dia bisa mencuri.

Gangguan jenis ini sering terjadi pada masa remaja. Kleptomania sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Karena mencuri melanggar hukum dan norma, perilaku ini sering kali berakhir dengan konsekuensi hukum.

 Beberapa gejala kleptomania adalah sulit untuk menahan hasrat untuk tidak mencuri, sering mencuri barang-barang yang sebetulnya tidak diperlukannya, dan merasa lega dan senang ketika melakukan pencurian.

Orang yang mengalami kleptomania mengalami ketegangan sebelum mencuri sehingga mencuri adalah salah satu cara untuk dia bisa merasa lega dan bahagia. Akan tetapi di sisi lain, mereka juga sering diliputi perasaan bersalah dan menyesal.

Orang kleptomania tidak mencuri untuk keuntungan pribadinya. Dia juga tidak mencuri karena menginginkan barang tersebut. Bahkan sering kali barang-barang yang diambil tidak memiliki nilai.

Pencurian juga sering kali terjadi secara spontan. Beberapa si kleptomania menyimpan barang-barang curiannya di suatu tempat untuk menyembunyikan perilakunya.

Si kleptomania berbeda dengan pengutil yang biasanya merencanakan aksi pencurian. Mereka tidak merencanakan sama sekali dan tiba-tiba timbul keinginan untuk mencuri. Kadang-kadang gangguan ini juga disertai dengan gangguan mood, gangguan panik, gangguan kecemasan, gangguan kompulsif obsesif, dan sebagainya.

Untuk mendiagnosis seseorang mengalami kleptomania, kondisi kejiwaannya harus dijelaskan secara rinci terlebih dulu. Sebab sejak dahulu, penyebab pasti kleptomania masih diselidiki. Akan tetapi faktor genetik dan lingkungan dipastikan berperan.

Diagnosisnya dapat dilakukan oleh dokter kejiwaan maupun ahli profesioanal kesehatan lainnya. Penanganannya sebaiknya dilakukan oleh psikolog atau psikiater dengan pemberian obat maupun psikoterapi.

 

 

 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia/verywell.com