Leila Rouf, Angkat Shibori Agar Setenar Batik & Lurik

Busana rancangan Leila Rouf kolaborasi dengan Rama Shibori/Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
10 April 2019 08:17 WIB Lajeng Padmaratri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Leila Rouf, desainer asal Jogja selama ini fokus memainkan lurik sebagai bahan utama rancangan busananya. Namun, di ajang Local Trunk Show Lippo Mall belum lama ini, ia menjajal bahan baru dan menyuguhkan shibori hasil kolaborasi bersama Rama Shibori.

Gelaran busana dengan tema Indonesia Treasure ini mengangkat kain-kain nusantara menjadi busana yang ringan dan siap pakai. Selama ini, kesan berat dan resmi melekat pada kain nusantara. Mereka hanya digunakan pada momen tertentu, khususnya agenda resmi. Namun, melalui Indonesia Treasure, kain nusantara dibawakan dengan lebih kasual sehingga bisa digunakan dalam berbagai momen dan segala kalangan.

Seperti yang dilakukan oleh Leila Rouf yang membuat sebelas desain busana ready to wear berbahan shibori dengan nama Black Pearl. Kali ini, ia bekerjasama dengan Rama Shibori sebagai produsen kain. “Saya berkolaborasi dengan Rama Shibori. Dia desain kainnya, saya desain bajunya,” kata dia ketika ditemui Harian Jogja seusai gelaran busana belum lama ini.

Shibori dipilih sebagai kain utama Black Pearl karena selama ini Leila merasa pamor kain ini masih belum setara dengan batik dan lurik, mengingat metode ini memang aslinya dari Jepang. Namun, karena ada kesamaan teknik, yaitu jumputan, maka shibori kini mulai populer di Indonesia.

“Sebenarnya ini hampir sama kayak jumputan, tetapi yang kita tahu hanya dijumput lalu diiket. Jumputan sendiri termasuk ke dalam shibori, jadi shibori tekniknya lebih banyak,” kata Endang Widowati dari Rama Shibori.

Selain itu, shibori juga lekat dengan warna kain yang didominasi biru dan putih. Namun, tak ingin terus terpaku dengan pakem tersebut, Leila dan Endang membuat koleksi busana yang juga memadukan warna hitam dan abu-abu. Itulah mengapa busana mereka diberi nama Black Pearl.

Dalam sebelas desain itu, shibori dipadukan dengan kain tenun dan lurik untuk membuat enam desain siap pakai bagi laki-laki serta lima desain bagi perempuan. Busana ready to wear selalu menjadi andalan Leila dengan jenama Kaylila Lurik. Sebab, ia merasa rancangan desain ready to wear cenderung cocok digunakan untuk banyak momen.

Untuk busana laki-laki, dia membuat beberapa desain, seperti kemeja, celana panjang dan pendek, serta sarung. Namun, kemeja yang dibuat tak selalu simetris, ada pula kemeja yang ia rancang memiliki potongan bagian depan yang asimetris. Selain itu, atasan lainnya juga bisa digunakan sebagai outer sehingga bisa dipadukan dengan kaos. Rancangannya kali ini pun terkesan kasual karena bisa dipadukan dengan denim dan sneaker.

Untuk desain busana perempuan, Leila menyuguhkan lima rancangan rok yang berbeda-beda, mulai dari dress pendek hingga versi modest wear. Mayoritas dress ini dirancang dengan siluet A line sehingga menampikan bentuk tubuh. Selain itu ada yang didesain asimetris sehingga pada bagian depan lebih pendek daripada bagian belakang, sehingga bisa menampilkan kaki yang jenjang.

Melalui koleksi kali ini, Leila berharap rancangannya bisa digunakan untuk berbagai kondisi dan untuk beragam kalangan. Selama ini ia selalu menempatkan bahwa kain nusantara tak hanya bisa dipakai ke kantor atau ke kondangan semata. Sebagai bentuk edukasi ke masyarakat, ia juga sering menggunakan kain nusantara dalam situasi nonformal, seperti saat belanja ke pasar maupun ketika jalan-jalan ke kota lain.

Kini ini koleksi Black Pearl bisa dipesan secara online melalui Instagram @kaylilalurik dan @rama_shibori. Namun, jika ingin membelinya langsung bisa mengunjungi Ruang Etnik di Kompleks Taman Kuliner K64 Jalan Anggajaya, Condongcatur, Sleman.

 

Leila Rouf (kanan) dan perwakilan dari Rama Shibori.