Perempuan Rentan Jadi Target Radikalisasi. Ini Alasannya ...

Ilustrasi-Warga dari berbagai elemen masyarakat melakukan aksi solidaritas menolak radikalisme dan terorisme di Batam, Kepulauan Riau, Minggu (13/5/2018) malam. - ANTARA/M N Kanwa
21 Juni 2019 02:37 WIB Sholahuddin Al Ayyubi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Faktor agama, sosial dan kultural yang cenderung menempatkan perempuan di dalam posisi marjinal dan subordinat, membuat perempuan Indonesia rentan menjadi target radikalisasi. 

Hal tersebut disampaikan Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati dalam acara Dialog Merajut Kebhinekaan di The Goodrich Hotel, Jakarta (20/6/2019). 

Susaningtyas berpandangan bahwa perempuan direkrut dan diinvestasikan melalui pernikahan, secara sosial perempuan dipandang sekadar objek yang harus patuh dan tunduk sepenuhnya terhadap pasangan. Kemudian, perempuan juga sering mendapat indoktrinasi kelompok radikal bahwa ideologi Pancasila dan sistem demokrasi adalah buatan thoghut sebagai faktor untuk meneguhkan legitimasi agama.

"Jadi melalui kultur patriarki di Indonesia yang kini menempatkan perempuan dalam posisi marjinal dan subordinat, maka perempuan Indonesia akan lebih mudah terpapar radikalisme," tutur Susaningtyas.

Di sisi lain, Susaningtyas menilai perempuan pedesaan juga lebih rentan terpapar radikalisme karena dari aspek pendidikan dan ekonomi yang jauh lebih rendah.

Menurut wanita yang akrab disapa Nuning tersebut jaringan radikalisme juga sudah melakukan cipta kondisi di media sosial untuk melanggengkan kultur patriarki melalui kampanye terstruktur dan masif mengenai poligami dan gerakan lainnya.

"Hal ini juga didorong oleh fenomena post truth dan hoaks di media sosial yang menempatkan narasi radikal diproduksi secara besar-besaran, multichannel, cepat, bias konfirmasi dan manipulatif," kata Nuning.

Nuning juga mengimbau agar Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) selain fokus pada penanggulangan, juga fokus pada pencegahan arus radikalisasi di kalangan perempuan Indonesia.

"Stakeholder lainnya perlu meningkatkan upaya internalisasi nilai kesetaraan dan keadilan gender, agar perempuan Indonesia dapat lebih berdaya melawan dominasi kultur patriarki," ujar Nuning.

Sumber : bisnis.com