5 Mitos Daging Kambing, Anda Juga Meyakininya?

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja memeriksa struktur gigi pada hewan kambing di lapak yang dikelola oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), Jogja, Rabu (31/7). - Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi
09 Agustus 2019 16:07 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pada Minggu (11/8/2019) mendatang, umat Muslim akan merayakan Iduladha dengan menyembelih hewan kurban seperti sapi dan kambing.

Jelang perayaan itu, banyak orang sudah mulai merencanakan untuk memasak daging kambing menjadi sate, gulai, maupun tongseng.

Tapi, terkait daging kambing, nyatanya masih banyak lho, orang yang khawatir untuk mengonsumsinya. Hal itu lantaran ada banyak mitos soal seputar daging kambing yang meresahkan, salah satunya dikatakan bahwa daging kambing bisa memicu kadar kolesterol naik.

Karena mitos itulah, tak sedikit orang menghindari mengonsumsi daging kambing. Padahal, daging kambing juga punya sederet manfaat kesehatan. Mulai dari bisa mengurangi risiko kanker hingga membakar kelebihan lemak di dalam tubuh. Dengan catatan, tidak dikonsumsi berlebihan.

Yuk, simak mitos terkait daging kambing berikut, seperti yang sudah Suara.com rangkum di bawah ini.

1. Daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah

Dikutip dari blog dokter spesialis penyakit dalam, Prof. Ari F Syam, biasanya banyak masyarakat yang mengonsumsi daging kambing secara berlebihan saat mereka mengalami tekanan darah rendah, dengan tujuan agar tensinya naik. Sebelum melakukan hal tersebut, sebaiknya ketahui dulu, apa yang menyebabkan tekanan darah rendah.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari perdarahan, kurang minum, kelelahan, hingga kurang tidur. Tensi rendah juga bisa terjadi karena gangguan jantung, seperti kelainan katup atau serangan jantung bahkan gagal jantung.

"Kalau tensi turun karena gangguan jantung, terus makan daging kambing, justru akan fatal akibatnya dan malah memperburuk keadaan," tulis dia.

2. Daging kambing dapat meningkatkan gairah seksual lelaki

Masih dikutip dari blog Prof. Ari F Syam, banyak masyarakat yang menganggap mengonsumsi daging kambing, khususnya bagian torpedo, bisa meningkatkan gairah seksual maupun kejantanan lelaki. Faktanya, meski testis kambing mengandung banyak testosteron yang dapat meningkatkan gairah seksual, sebenarnya ini tidak sepenuhnya benar.

"Peningkatan gairah seksual terjadi karena multifaktor, dan tidak semata-mata berhubungan dengan makanan," tulis Prof. Ari.

3. Daging kambing meningkatkan kolesterol

Adapula kekhawatiran lainnya, yang menganggap bahwa mengonsumsi daging kambing bisa meningkatkan kolesterol jahat dalam tubuh, yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung hingga stroke.

Namun, menurut dr. Royman C. P Simanjuntak dari Siloam Hospital Kebon Jeruk, tidak ada hubungan antara konsumsi daging kambing dengan penyakit jantung akibat kadar kolesterol yang meningkat.

"Itu nggak ada hubungannya. Tapi kalau kita bicara dalam porsi normal ya. Dalam artian tidak setiap hari makan daging kambing. Apalagi Iduladha ini kan hanya setahun sekali," ungkapnya dalam temu media beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut dia memaparkan bahwa tingginya kolesterol dalam tubuh seseorang disebabkan oleh banyak faktor, bukan hanya karena mengonsumsi daging kambing saja.

4. Ibu hamil tak boleh konsumsi daging kambing

Banyak kabar beredar jika daging kambing bahaya bagi ibu hamil, bahkan bisa menyebabkan keguguran karena sifatnya yang panas. Faktanya, sama seperti daging lainnya, ibu hamil bisa mengonsumsi daging kambing dengan catatan tidak berlebih dan dengan memperhatikan tingkat kematangannya.

Pada dasarnya, ibu hamil memang disarankan untuk tidak makan daging mentah atau setengah matang. Jadi, jika ingin mengonsumsi daging kambing, pastikan dagingnya benar-benar matang ya. Dan, hindari hidangan sate kambing karena dikhawatirkan belum matang sepenuhnya.

5. Daging kambing lebih menyehatkan dari daging sapi

Selama ini, banyak masyarakat yang menganggap daging sapi lebih sehat daripada daging sapi. Padahal belum ada penelitian ilmiah terkait hal ini. Kalaupun memang benar, mungkin karena pengaruh kandungan lemak tak jenuh yang lebih tinggi pada daging kambing.

Sumber : Suara.com