Diduga karena Mengantuk, Kecelakaan Maut Cipularang Libatkan 21 Kendaraan. Kenali Ciri-Ciri saat Kantuk Melanda

Petugas mengidentifikasi kecelakaan beruntun di Cipularang. - Antara/Ali Khumaini
03 September 2019 11:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAWA BARATKapolres Purwakarta AKBP Matrius menyampaikan bahwa kecelakaan beruntun yang terjadi di tol Cipularang, Purwakarta, Jawa Barat, persisnya di ruas Tol Purbaleunyi arah Jakarta Km 91 pada Senin (2/9/2019) pukul 13.00 WIB yang melibatkan 21 kendaraan disebebkan mobil truk pengangkut tanah terguling dan menutup jalan.

Tergulingnya truk tersebut diduga karena pengemudi kurang konsentrasi serta kelebihan kapasitas. "Terguling itu bisa disebabkan muatan melebihi batas, jalanan yang jelas menurun. atau faktor mengemudinya lelah atau ngantuk," jelas Matrius di lokasi kecelakaan, Senin (2/9/2019).

Mengantuk atau kelelahan seakan sudah umum menjadi salah satu faktor kecelakaan lalu lintas.

Melansir National Sleep Foundation, tidur adalah dorongan biologis yang kuat. Dan ketika pengemudi membutuhkannya, berbagai trik pencegahan justru tidak akan berhasil, termasuk menurunkan jendela hingga menaikkan volume radio.

Tidak selalu mudah untuk mengetahui kapan Anda terlalu lelah untuk mengemudi.

Untuk mencegah kecelakaan, kenali tanda ketika Anda diharuskan menepi:

- Kesulitan fokus, sering berkedip, atau kelopak mata berat
- Melamun, pikiran 'berkelana' atau terputus
- Kesulitan mengingat sudah melewati beberapa kilometer, pintu keluar atau rambu lalu lintas
- Menguap berulang kali atau menggosok mata Anda
- Kesulitan mempertahankan kepala Anda
- Melenceng dari jalur atau meliuk
- Merasa gelisah atau mudah tersinggung

Sebelum seseorang benar-benar tertidur saat mengemudi, kehilangan konsentrasi dan waktu reaksi yang melambat membuat mengemudi sambil mengantuk menjadi sangat berbahaya.

Mengemudi adalah kegiatan kompleks yang melibatkan banyak keputusan kecil namun penting dengan setiap detik berlalu. Bahkan jika Anda dipaksa untuk bangun, otak tidak berfungsi secara optimal untuk menangani keputusan ini.

Studi menunjukkan rasa kantuk berlebihan dapat mengurangi penilaian kita dan meningkatkan pengambilan risiko.

Sumber : suara.com