Suka Pakai Sendal Jepit? Awas, Kanker Kulit Mengintai

Ilustrasi sendal jepit / Dok. iStock
07 September 2019 17:57 WIB Ria Theresia Situmorang Lifestyle Share :

Harianjogja.com,  JAKARTA – Sendal jepit menjadi alas kaki favorit sebagian orang. Bentuknya yang gampang dipakai dan dilepas membuat banyak orang memilih menggunakannya dalam berbagai aktivitas.

Namun tahukah Anda kalau pemakaian sendal jepit sama sekali tidak disarankan oleh ahli kesehatan?

Dikutip dari CBS News, Dr. Mallika Marshall dari Auburn University menyebut sendal jepit yang Anda rasa nyaman dipakai saat ini mungkin akan mempengaruhi kaki Anda dalam kurun waktu yang panjang.

Menurutnya, efek dari sol tipis dan bantalan tumit yang hampir tidak ada adalah beberapa dari kekurangan dari sendal jepit.

Beberapa orang kemungkinan berisiko mengalami luka pada ibu jari dan jari tengah pada kaki yang saling bergesekan. Disamping itu, bantalan tali atau karet pada sendal jepit memaksa otot kita dikencangkan dan membuatnya menjadi sedikit tegang.

Sebuah survey yang dilakukan North Central Surgical yang dikutip dari The Epoch Times meneliti 39 pria dan wanita yang terbiasa memakai sendal jepit, dan menemukan langkah kaki mereka umumnya lebih pendek dibanding orang kebanyakan karena jarak kakinya dengan lantai sangat kecil sehingga dapat menyebabkan nyeri kaki dan masalah tumit lainnya.

Di sisi lain, memakai sendal jepit membuat penggunanya rentan terhadap cedera kaki karena hubungan langsungnya dengan alam terbuka. Cedera kuku dan jari kaki yang patah dan memar di musim kemarau adalah beberapa dampak lain yang bisa ditemui dari kebiasaan memakai sendal jepit.

Beberapa dokter bahkan menghubungkan sendal jepit dengan bahaya yang paling serius yakni kanker kulit. Saat kulit kaki terpapar sinar matahari, apalagi jika penggunanya tidak memakai sunscreen, besar kemungkinan gejala kanker kulit akan menyerang.

Dr. Mallika menambah salah satu pertimbangan untuk tidak memakai sendal jepit adalah saat musim panas atau kemarau karena akan lebih banyak luka yang ditimbulkan. Terlebih bagi orang yang mengidap diabetes yang tinggi akan risiko luka dan infeksi. Hal ini juga berdampak pada luka dan infeksi yang umum terjadi pada anak-anak yang lebih aktif berjalan dan berlari dibanding orang dewasa.

Sumber : Bisnis.com