Jangan Mendiagnosis Diri Sendiri Hanya Bermodal Informasi dari Internet, Ini Bahayanya

Ilustrasi. - Harian Jogja/Nina Atmasari
12 Oktober 2019 06:17 WIB Rahmat Jiwandono Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Bahaya mendiagnosa diri sendiri alias self-diagnose berkaitan dengan gangguan mental seseorang dipengaruhi perkembangan teknologi. Fenomena tersebut ialah Cyberchondria yakni gejala dimana seseorang terlalu memikirkan kesehatan mereka dan mencoba mendiagnosisnya sendiri melalui internet.

Dokter Kesehatan Jiwa RSUP Dr. Sardjito, Carla Raymondalexas Marchira mengungkapkan begitu mudahnya mendapat informasi pada era ini. Masyarakat diimbau untuk membekali diri dengan pemahaman yang komprehensif tentang gangguan mental.

"Jangan membaca informasi sepotong-sepotong akan membuat over diagnosis," kata dia kepada Harianjogja.com, Jumat (11/10/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan efek dari diagnosis diri sendiri secara berlebihan, seseorang akan merasa sakit yang dibuat-buat tanpa berkonsultasi dengan psikolog ataupun psikiater. Akibatnya menimbulkan rasa cemas sehingga ia merasa perlu diobati.

"Padahal untuk mendiagnosis sebuah penyakit ada kriteria yang harus dipenuhi dan durasi waktu," ucap Carla.

Carla menyebut akibat lainnya ialah kecemasan yang tidak perlu. Gejalanya yaitu tidak bisa tidur dan dada berdebar-debar. Lebih dari itu, seseorang dapat mengkonsumsi obat yang salah serta menyebarkan informasi yang tidak benar kepada orang lain.

"Saya sarankan untuk bertemu dengan orang yang ahli," katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Diskes) DIY, Berty Murtiningsih menyatakan upaya edukasi yang dilakukan untuk masyarakat terkait kesehatan mental melalui gerakan masyarakat sehat (Germas). Di dalamnya sudah ada deteksi dini kesehatan jiwa.

"Ada di poin kedua yaitu cek kesehatan secara rutin," ujarnya.

Diskes menghimbau masyarakat mengelola stres, lebih mengarah ke pengendalian faktor resiko kesehatan jiwa. Deteksi dini kesehatan jiwa bisa dilakukan di pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) dengan menggunakan alat screening kesehatan jiwa.

Adapun kendala yang dihadapi ialah belum semua posbindu melakukan screening lantaran keterbatasan kader yang dilatih. Untuk mengurangi stigma bahwa pergi ke psikolog atau psikiater belum tentu mengalami gangguan jiwa, pihaknya sosialisasi promosi kesehatan serta advokasi kepada lintas sektoral guna meningkatkan ketahanan keluarga dan ketaatan beribadah.

"Itu yang sudah kami lakukan," ujar dia.