Benarkah Disinfektan Berlebihan Bisa Memicu Kanker?

Suzuki Club Reaksi Cepat (SCRC) bersinergi dengan IOF (Indonesia Off/road Federation), BPPD Bekasi, Pramuka Peduli Bekasi, dan beberapa pihak lainnya, menurunkan tim untuk melakukan donasi dan penyemprotan disinfektan sejak 22 Maret 2020 hingga hari ini di beberapa titik di wilayah zona merah Jabodetabek dan juga beberapa daerah lainnya.
12 April 2020 10:57 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Belakangan ini marak adanya bilik disinfektan sebagai upaya untuk membunuh virus-virus yang menempel pada tubuh manusia. Namun sebenarnya, penggunaan disinfektan yang berlebihan apalagi pada tubuh melalui bilik disinfektan bisa memicu sel kanker.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Ari Fahrial Syam mengatakan penggunaan bilik disinfektan untuk menghilangkan virus tidaklah tepat. Menurutnya, pemberian disinfektan hanya untuk ruangan atau benda. Sementara virus menempel pada tubuh manusia khususnya dalam pakaian. Oleh sebab itu, cara membunuh virus seharusnya melalui pakaian orang tersebut.

Ari menjelaskan seseorang bisa keracunan disinfektan, misalnya karena menghirup etanol, dan klorin. Disinfektan juga bisa membuat iritasi mata dan kulit sensitif dan dermatitis kontak. Selain itu jika manusia menghirup disinfektan berlebihan bisa memicu sesak nafas. Jika tertelan, manusia bisa mengalami muntah-muntah.

“Bahan racun ini kalau terpapar terus ini tentu menyebabkan perubahan dari struktur normal dalam tubuh dan menyebabkan kanker, karena sebagian dari bahan ini disebutkan sebagai bahan karsinogenik,” ungkapnya, Sabtu (11/4/2020).

Oleh sebab itu, jika seseorang menerima paparan disinfektan dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan organ. Sebagai contoh jika keracunan maka akan mengganggu kinerja liver.

Dia mengimbau masyarakat untuk bisa membedakan antiseptik yang tujuannya membunuh bakteri dan virus pada tubuh, sementara disinfektan untuk membunuh virus dan bakteri pada permukaan benda.

“Orangtua punya risiko keracunan yang lebih besar. Jadi terbaik adalah mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker,” sambungnya.

Dia menegaskan masyarakat harus menegaskan kepada satu dan lain dalam komunitasnya, bahwa virus yang paling berbahaya berasal dari paparan virus ketika orang bicara, bersin dan batuk. Jika virus menempel pada baju, dia bisa bertahan sampai 1 jam, setelahnya baru virus akan mati.

“Penyemprotan ini tidak efektif karena ini bisa jadi virus justru ada di celana, sementara penyemprotan ada di badan kita, ini jadi lebih banyak dampak efek samping dibandingkan manfaatnya,” tegasnya.

Sumber : Bisnis.com