Ini Pilihan Menu Sahur dan Berbuka yang Tepat

Ilustrasi - Pxlfitness
27 April 2020 19:27 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Saat puasa, yang mana kita tidak mendapatkan asupan makan dan minum selama kurang lebih 13 jam, menjadi saat yang tepat bagi seseorang untuk melakukan pola hidup sehat. Karena saat itulah tubuh mengalami detoksifikasi. 

Hardinsyah, Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (Pergizi) mengatakan ketika tubuh kekurangan energi karena tidak makan dan minum, saat itu akan muncul lisosom yakni organ sel yang berbentuk seperti membran parasut.

Lisosom ini, sambungnya, akan mencari sumber energi lain yang berasal dari dalam tubuh yakni berupa sel-sel yang rusak dan tidak produktif. Sel tersebut kemudian akan dibersihkan, dihancurkan, dan diurai kembali menjadi bahan dasar seperti air, mineral, asam amino, asam lemak, vitamin, dan mineral. Proses pembersihan ini disebut sebagai autophagy.

Banyak manfaat yang didapatkan ketika terjadi proses autophagy. Sebab, sel yang tidak produktif akan didaur ulang kembali sehingga pada saat itu terjadilah proses detoksifikasi atau pembersihan terhadap sel yang rusak (detox), meminimalkan inflamasi (radang perut), memperkuat imunitas, regenerasi sel, hingga penyembuhan berbagai penyakit.

“Puasa sebetulnya menjadi golden momen yang harus dimanfaatkan setiap umat muslim untuk proses penyembuhan berbagai penyakit, seperti memperbaiki profil lemak darah sekaligus menurunkan berat badan rata-rata 1,24 kg. Bahkan pada minggu-minggu terakhir penurunan berat badan akan terjadi secara drastis,” terangnya.

Saat Sahur

Namun, agar proses detoks dan penurunan berat badan dapat berjalan lancar, perlu kesadaran dalam diri untuk tidak makan berlebih di saat berbuka dan sahur. Menurutnya, saat sahur sebaiknya dimulai dengan minum segelas air putih, kemudian beri jeda selama 15 menit sebelum makan agar perut tidak kaget setelah bangun tidur.

Sebiasa mungkin pada saat sahur, pilihlah menu makanan yang kaya akan serat agar proses pencernaannya lebih lambat sehingga bisa kenyang lebih lama. Kemudian minum satu gelas air putih pada saat makan, dan ditutup dengan segelas air putih lagi sebelum azan subuh.

“Saat sahur makan tidak perlu terlalu banyak yang penting pilih makanan yang kaya serat dan perbanyak minum air putih karena itu bagus agar tubuh tetap fit dan terhidrasi. Bagi yang diabetes hindari minum kopi atau teh manis,” tuturnya.

Saat Berbuka Puasa

Kemudian, untuk waktu berbuka puasa usahakan jangan langsung makan berat, tetapi mulai dengan makanan yang lembut dan manis karena sepanjang 12 hingga 13 jam perut sudah beristirahat. Beberapa menu yang bisa dipilih seperti kurma, kolak, atau buah-buahan, hindari konsumsi makanan berminyak.

Usai berbuka, selingi dengan sholat magrib dan istirahat selama 15 hingga 30 menit, baru kemudian dilanjutkan dengan makan malam. “Makan juga harus bertahap jangan dadakan karena ini titik kritis di saat perut belum sanggup untuk makan terlalu banyak, hanya mata yang terkadang lapar,” ujarnya.

Menu makanan saat berbuka puasa menurutnya harus diperhatikan. Seseorang harus lebih bijak dalam mengatur pola makan. Sebab, sering kali hanya lapar mata sehingga makan berlebih saat berbuka yang justru menyebabkan rasa begah dan tidak nyaman pada perut.

“Jangan sampai puasa yang seharusnya bisa dijadikan momen emas untuk Ibadah sambil detoks, justru gagal karena makan berlebihan. Di sini penting untuk bisa makan bijak dan jangan lapar mata” tutur Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB ini.

Sumber : Bisnis.com