Pakaian Antivirus Bisa Jadi Tren Fesyen Berikutnya setelah Masker

Louis Vuitton memproduksi APD bagi tenaga medis. - Instagram
30 Mei 2020 08:57 WIB Nirmala Aninda Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Belum lama ini seorang penemu dari Kanada, Giancarlo Beevis, menuturkan inspirasinya terkait pakaian antivirus berangkat dari kebutuhan para pekerja yang akan segera kembali ke kantor untuk memulai kembali ekonomi. Namun pada saat yang sama, mereka ingin ada jaminan kesehatan di samping mengenakan masker, dilansir melalui The List.

Visi Beevis untuk pasar tekstil didorong oleh kemitraannya dengan Youngdo Kim, CEO Okyung International, produsen tekstil Korea.

Menunggu persetujuan FDA, dan bekerja sama dengan EPA, produk ini sedang dikembangkan di Intelligent Fabric Technologies North America (IFTNA) dan disebut PROTX2 AV.

"Dalam hasil lab, produk tersebut dikatakan telah menghancurkan 99,9% virus penyebab Covid-19 dalam waktu 10 menit, dengan sisa daya pembunuh selama 24 jam," dikutip melalui The List, Jumat (29/5/2020).

Jadi bagaimana cara kerjanya? Kemungkinan PROTX2 AV akan memberikan nilai tambah yang mirip dengan koleksi antibakteri perusahaan sebelumnya, yakni PROTX2.

Produk ini diklaim dapat menghambat pertumbuhan bakteri sambil mempertahankan karakteristik alami kain.

Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia bergegas memanfaatkan teknologi baru ini, mempertimbangkan aplikasi bahan kimia antivirus ini pada alat pelindung diri (APD), pakaian militer, pakaian perjalanan, dan juga barang sehari-hari.

Belum jelas apakah semua pakaian yang diproduksi akan memiliki zat antivirus yang diterapkan sebelumnya, atau perusahaan akan memproduksi sejenis cairan pembersih yang dapat diaplikasikan ke pakaian dan benda sehari-hari. Kemungkinan besar kedua pilihan akan tersedia.

Tidak peduli bagaimana caranya barang itu sampai kepada kita, pakaian antivirus diprediksi akan menjadi bisnis besar. Menurut PR Newswire, pasar tekstil antimikroba berada di jalur untuk melampaui US$20,5 miliar pada tahun 2026

 

Sumber : Bisnis.com