Voyeur atau Suka Mengintip Ternyata Merupakan Gangguan Psikologis, Begini Penjelasannya

Ilustrasi. - Freepik
02 Juli 2020 21:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Publik dihebohkan dengan berita seorang seorang pegawai kedai kopi yang kedapatan mengintip payudara pengunjung melalui kamera CCTV.

Tentu saja hal ini meresahkan banyak perempuan terutama saat berada di tempat umum.

Pasalnya tindakan ini bisa dilakukan siapa saja, dan membuat perempuan merasa terancam, padahal yang salah adalah tentu saja, perilaku atau orang yang suka mengintip.

Baca juga: 3 Dampak Serius yang Mengintai Anda yang Sering Makan Makanan Tinggi Lemak

Berbicara soal mengintip, ternyata hal tersebut adalah kebiasaan dan merupakan gangguan psikologis yang dinamakan gangguan voyeuristik.

Biasanya orang dengan gangguan ini akan mengalami gairah seksual saat memata-matai atau mengintip orang lain. Melansir Psychology Today, Kamis (2/7/2020) biasanya orang dengan gangguan ini suka mengintip orang yang melepas baju, atau sedang melakukan kegiatan seksual.

Orang dengan gangguan ini disebut voyeur, juga biasanya suka merekam tindakannya untuk nanti bisa ditonton di kemudian hari.

Para voyeur juga dikenal sebagai peeping toms yang suka melakukan kegiatannya menggunakan teropong, cermin, hingga kamera rekaman sambil mengintip dari jendela atau melalui lubang.

Baca juga: Perempuan Bisa Kurangi Risiko Menopause dengan Aktivitas Seksual

Sebagian kecil para voyeur ini memperoleh kesenangannya saat menyaksikan orang lain buang air besar hingga menguping pembicaraan erotis.

Parahnya saat melakukan aktivitas mengintip, mereka biasa lakukan sambil melakukan masturbasi atau berfantasi seksual, tapi tidak tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan orang yang mereka intip.

Dibanding perempuan, laki-laki cenderung lebih banyak mengalami voyeurisme. Para voyeur di bawa umur jarang diperkarakan hukum, tapi mereka yang sudah dewasa dikategorikan sebagai tindakan kriminal.

Ada beragam penyebab mengapa seseorang menjadi voyeur, tapi kebanyakan terjadi karena penyalahgunaan narkotika, pelecehan seksual, dan hypersexualized.

Gangguan ini juga bisa terjadi karena pernah melihat seseorang telanjang, melepas baju, atau berpartisipasi dalam kegiatan seksual. Kegiatan yang terus menerus ini membuat mereka membenarkan perilakunya, lalu melewati batas normal budaya yang berlaku di lingkungan sekitar.

Sumber : Suara.com