Hasil Studi: Nonton di Bioskop Lebih Aman Dibandingkan Ngantor di Ruang Tertutup

Ilustrasi. - Freepik
28 Agustus 2020 13:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI mengeluarkan kebijakan akan membuka bioskop di tengah angka kasus Covid-19 harian masih meningkat di Indonesia.

Anies Baswedan sendiri belum mengumumkan secara pasti tanggal bioskop akan dibuka. Akan tetapi, ia mengungkapkan bahwa pembukaan ini merujuk pada studi dan kajian para pakar sebelumnya.

Mantan Mendikbud itu menganggap protokol kesehatan akan lebih mudah diterapkan di bioskop sebab tidak banyak interaksi antar penonton saat film diputar, interaksi juga hanya dengan orang terdekat yang memudahkan tracing, dan saat menonton hanya menghadap ke satu layar bioskop.

"Ini berbeda dengan di restoran, di cafe, di mana satu sama lain justru saling ngobrol. Jadi, ini mirip situasinya dengan penerbangan pesawat, pesawat itu ruangannya kecil, tapi bisa diatur duduk siapa duduk dimana, bisa diatur mengenai sirkulasi udaranya dengan menggunakan fasilitas dengan standar protokol kesehatan," ucap Anies saat konferensi pers di BNPB, Jakarta Timur, Rabu (26/8/2020).

Mengenai rencana pembukaan bioskop ini, ada studi menarik yang dilakukan oleh peneliti dari Technical University di Berlin.

Baca Juga: Begini Panduan Melakukan Karantina Mandiri di Rumah

Dilansir dari De24 News, mereka menemukan tinggal di ruang kantor tertutup meningkatkan risiko penularan Covid-19 lebih tinggi daripada mengunjungi ruang bioskop.

Konsentrasi aerosol yang relevan untuk penularan virus corona di bioskop secara signifikan lebih rendah daripada di ruang kantor. Ini adalah hasil studi oleh Hermann Rietschel Institute dari Technical University of Berlin untuk German Film Agency for the German Film Theater Association HDF Kino.

Penelitian dilakukan di dua aula bioskop Alhambra di Berlin-Wedding, di mana 342 dan 148 kursi dapat digunakan. Dengan jarak minimal akibat tindakan corona, jumlah saat ini 85 dan 35 orang.

Sedangkan kantor yang dibandingkan memiliki 16 ruang, 8 di antaranya dapat digunakan dari kejauhan.

Studi tersebut menghasilkan temuan bahwa karena umumnya tidak ada yang berbicara selama menonton di bioskop, jumlah aerosol yang dihirup di bioskop hanya 0,3% dibandingkan dengan yang ada di kantor. Terlepas dari durasi waktu menonton.

Sepuluh persen dari mereka yang terinfeksi membuat risiko infeksi yang lebih rendah untuk orang yang tidak terinfeksi di bioskop, daripada satu orang yang terinfeksi di kantor tertutup.

Selain itu, bioskop memiliki ventilasi yang lebih baik daripada kantor. Di bioskop ada yang biasa disebut Displacement ventilation, ini membuat udara mengalir ke atas ruangan dengan pasokan udara segar dari bawah.

Baca Juga: Meski Termasuk Orang Terkaya di Dunia, Warren Buffett Ternyata Sangat Irit

Proporsi udara segar bisa ditingkatkan hingga 100%. Sehingga aerosol dan virus dapat dihilangkan 100% dalam proses ventilasi.

Pada saat yang sama, Institut Hermann Rietschel mengatakan, "Dengan semua pertimbangan, harus dicatat bahwa konsentrasi aerosol dalam aliran volume yang dihembuskan langsung seseorang secara signifikan lebih tinggi dan pertimbangan tersebut tidak dapat digunakan untuk area ini."

Selain itu, tidak ada pernyataan tentang kemampuan bertahan hidup virus di udara ruangan, yang bergantung pada suhu dan kelembapan.

Meski risiko penularan virus corona Covid-19 di bioskop cenderung rendah, namun bukan berarti sama sekali tidak ada risiko.

"Jika teater melakukan segalanya dengan benar, teater seharusnya memiliki risiko penularan Covid-19 orang-ke-orang yang lebih kecil daripada banyak tempat lain yang dikunjungi orang sekarang," kata Natascha Tuznik, seorang profesor penyakit menular di UC Davis Health, dikutip dari laman UC Davis Health.

Sumber : suara.com