Pilih Chat atau Telepon? Ini Penjelasan Peneliti

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
12 September 2020 17:37 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Para peneliti dari The University of Texas di Austin membandingkan efektivitas komunikasi pesan teks dan panggilan telepon di masa pandemi.

Melansir dari Medicaxpress, dalam penelitian tersebut para peserta cenderung memilih pesan teks ketimbang telepon karena takut canggung. Padahal menurut peneliti, berkabar dengat telepon lebih baik.

"Orang memilih untuk mengetik karena mereka yakin panggilan telepon akan lebih canggung, tetapi mereka salah," kata Amit Kumar, asisten profesor pemasaran Sekolah Bisnis McCombs.

Baca juga: Menikah di Masa Pandemi, Ini 7 Tips Menghitung Tamu Undangan

"Orang merasa lebih terhubung secara signifikan melalui media berbasis suara, tetapi mereka memiliki ketakutan tentang kecanggungan yang mendorong mereka ke media berbasis teks," kata Kumar.

Penelitian ini telah diterbitkan secara online di Journal of Experimental Psychology. Dalam satu percobaan, peneliti meminta 200 orang untuk membuat prediksi tentang bagaimana rasanya berhubungan kembali dengan teman lama baik melalui pesan teks atau telepon.

Meskipun peserta mengetahui bahwa panggilan telepon akan membuat mereka merasa lebih terhubung, mereka tetap mengatakan bahwa mereka lebih suka mengirim pesan karena mengira panggilan akan terlalu canggung.

Baca juga: Hotel di DIY Mulai Rasakan Imbas Rencana PSBB Jakarta

"Tetapi panggilan telepon berjalan jauh lebih baik daripada berkirim pesan teks," demikian temuan para peneliti.

"Ketika sampai pada pengalaman nyata, orang-orang melaporkan bahwa mereka memang membentuk ikatan yang lebih kuat secara signifikan dengan teman lama mereka di telepon daripada pesan teks," kata Kumar.

Nyatanya, suara itu sendiri, meski tanpa visual, tampaknya menjadi bagian integral dari ikatan atau hubungan. "Hasil penelitian mengungkapkan bahwa media komunikasi pada saat mengelola hubungan melalui teknologi sangat penting," ujar Kumar.

"Kita diminta menjaga jarak secara fisik, tetapi kita masih membutuhkan ikatan sosial ini untuk kesejahteraan psikologi, bahkan untuk kesehatan kita," imbuhnya.