Pria Wajib Tahu, Jangan Menyimpan Ponsel di Kantong Celana Depan!

Ilustrasi. - Freepik
11 November 2020 04:17 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Saat tidak membawa tas, orang bisa menyimpan ponselnya di saku celana. Ponsel akan mudah diakses dengan tangan jika sewaktu-waktu Anda membutuhkan ponsel. Tapi, menurut pakar kesehatan, ini bukan lokasi aman untuk menyimpan ponsel.

Gelombang frekuensi radio (RF) yang dipancarkan ponsel bisa berefek negatif pada jaringan hidup, demikian seperti diwartakan Medical Daily, Senin (10/11/2020).

Gelombang RF diperkirakan berhubungan dengan terjadinya gangguan tidur, sakit kepala, tingginya tekanan darah, kerusakan DNA, dan kesulitan untuk berkonsenterasi. Beberapa penelitian saat ini sedang fokus meneliti keterkaitan efek gelombang RF pada otak, jika kita memegang ponsel dekat dengan kepala.

Baca juga: Kehilangan Kemampuan Penciuman Pasti Terinfeksi Covid-19?

Dan kabar baiknya, hingga saat ini belum ada satupun data penelitian dari National Cancer Institute beserta lembaga kesehatan lainnya, yang menyatakan ponsel bisa menyebabkan kanker.

Namun saat gelombang RF dikaitkan dengan sperma, kesimpulannya, ponsel tidak boleh berada dekat dengan organ vital, batas maksimal hanya di atas ikat pinggang. Hal ini terbukti, setelah beberapa studi oleh peneliti terkemuka dalam 10 tahun terakhir, membuktikan gelombang RF membuat jumlah sperma jadi lebih sedikit.

Misalnya, penelitian di 2018 menemukan bukti jika paparan gelombang RF berdampak buruk karena menurunkan kualitas sperma. Sementara penelitian lain menemukan semakin lama organ vital terpapar gelombang RF, membuat jumlah sperma dewasa semakin sedikit.

Baca juga: Ingin Penghasilan Tambahan di Tengah Resesi? Tips Ini Bisa Dicoba

Sedangkan di 2014, peneliti di University of Exeter Inggris meninjau kembali 10 penelitian sebelumnya, termasuk menganalisis 1.492 sampel sperma. Hasilnya, tetap saja mereka menyatakan jika menyimpan ponsel di saku depan celana berdampak buruk pada kualitas sperma, dan lelaki yang mengalami infertilitas, sangat mungkin terdampak lebih parah.

Lantas sebagai penegasan di tahun yang sama, di 2014, jurnal Urologi Eropa Tengah menyimpulkan adanya hubungan erat antara radiasi ponsel dan penurunan mortalitas sperma.

Ingat juga, sejak ponsel pertama diperkenalkan pada 1973, jumlah sperma terus menurun selama beberapa dekade, atau beberapa puluh tahun terakhir.

Sumber : Suara.com