Dokter Orthopedi: Perokok Lebih Berisiko Terkena Osteoporosis

Kegiatan Talkshow Kesehatan bertajuk Kenali dan Cegah Osteoporosis yang digelar secara daring, Kamis (10/12/2020). - Ist/dok UGM
10 Desember 2020 19:47 WIB Nina Atmasari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Penyakit Osteoporosis atau pengeroposan tulang umumnya banyak dialami pada orang dengan usia lanjut atau lansia. Namun, ternyata penyakit ini dapat menyerang siapa saja, termasuk anak muda.

Dokter spesialis orthopedi RSA UGM, dr. Luthfi Hidayat. Sp.OT (K) Hip Knee mengungkapkan semua orang berisiko terkena osteoporosis. "Terdapat beragam faktor yang memengaruhi osteoporosis. Salah satunya dikarenakan gaya hidup tidak sehat," jelasnya, dalam Talkshow Kesehatan bertajuk Kenali dan Cegah Osteoporosis yang digelar secara daring, Kamis (10/12/2020).

Ia mencontohkan kebiasaan yang dapat memicu terjadinya osteoporosis yakni merokok. Selain berdampak buruk bagi kesehatan jantung dan paru-paru, merokok juga bisa menyebabkan osteoporosis. Pasalnya, zat-zat yang terkandung dalam rokok seperti nikotin dapat menghambat produksi sel pembentukan tulang.

Baca juga: Ada Popcorn hingga Keju, 5 Makanan Ini Bikin Kamu Mudah Lupa

“Pada mereka yang merokok efeknya cukup lumayan. Jika mengalami patah tulang maka butuh lebih lama untuk sembuh/nyambungnya dan risiko tulang tidak nyambung juga lebih besar,” paparnya, dikutip dari ugm.ac.id.

Kebiasaan lain yang dapat memengaruhi kesehatan tulang serta meningkatkan risiko osteoporosis adalah mengonsumsi alkohol. Selain itu, malas berolahraga atau melakukan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik atau olahraga dapat meningkatkan risiko osteoporosis.

“Olahraga bagus untuk memperkuat tulang, tapi perlu diperhatikan juga jika tidak semua aktivitas fisik bagus untuk kepadatan tulang,” tuturnya.

Selain gaya hidup, faktor lain seperti diet rendah kalsium, riwayat keluarga/genetis, dan seseorang dengan badan kurus dan kecil juga berisiko tinggi mengalami osteoporosis.

Baca juga: Pasien Negatif Covid-19 Ada Kemungkinan Menularkan

Luthfi juga mengungkapkan wanita lebih berisiko terkena osteoporosis karena mengalami menopause. Demikian juga pada orang dengan penyakit gangguan metabolisme, diabetes, dan gangguan ginjal, serta penyakit autoimun lebih rentan terkena osteoporosis.

Meski demikian, osteoporosis bisa dicegah. "Pencegahannya dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan upayakan untuk selalu aktif bergerak. Kalau sudah kena dilakukan pengobatan dengan pemberian kalsium,” terangnya.

Sementara dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medis RSA UGM, dr. Guritno Adistyawan, Sp.KFR., meenjelaskan bahwa osteoporosis dapat dicegah salah satunya dengan olahraga. Sebab, olahraga dapat menjaga kepadatan tulang.

Gurtino mengatakan olahraga yang baik untuk mencegah osteoporosis adalah weight bearing. Olahraga jenis ini dilakukan dengan gerakan melawan gravitasi dalam posisi berdiri tegak. Beberapa diantaranya seperti jalan cepat, jogging, melompat dan lainnya.

“Semua jenis olahraga yang dilakukan perlu dipastikan dengan kondisi masing-masing,” katanya.

Pada penderita osteoporosis dan lansia, lanjutnya, olahraga yang dilakukan sebaiknya yang minim membebani tulang. Pasalnya, pengidap osteoporosis rawan mengalami patah tulang.

Ia mencontohkan olahraga yang bisa dilakukan adalah jalan-jalan, berdiri melakukan aktivitas sehari-hari seperti menyapu, membawa barang belanjaan dan lainnya. Hindari olahraga yang bersifat memberikan beban tinggi seperti melompat karena bisa meningkatkan risiko patah tulang.

“Dengan aktivitas fisik seperti itu tulang sudah mendapatkan stimulus,” tegasnya.