Benarkah Obat Gagal Jantung bisa Atasi Gejala Jangka Panjang Covid-19?

Ilustrasi obat/obatan
16 Februari 2021 11:07 WIB Desyinta Nuraini Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas California San Diego mengungkap manfaat obat gagal jantung untuk para penyintas Covid-19.

Obat tersebut diklaim memperbaiki gejala terkait dengan sindrom takikardia ortostatik postural, atau dikenal sebagai POTS yang memengaruhi sistem saraf otonom tubuh, menyebabkan detak jantung tinggi, biasanya saat berdiri.

Menulis dalam Journal of American College of Cardiology, penulis penelitian menyelidiki obat ivabradine dan pengaruhnya terhadap detak jantung, kualitas hidup, dan kadar norepinefrin plasma pada orang yang hidup dengan POTS. Norepinefrin adalah hormon stres dan neurotransmitter. Dalam plasma darah, itu digunakan sebagai ukuran aktivitas sistem saraf simpatis. Peserta uji coba mengalami penurunan detak jantung, peningkatan gejala, dan kualitas hidup secara keseluruhan satu bulan setelah mengonsumsi obat.

"Ivabradine adalah agen baru yang disetujui FDA untuk gagal jantung, tetapi berdasarkan mekanismenya, kami pikir ini dapat membantu pasien dengan POTS karena dapat mengurangi detak jantung tanpa memengaruhi tekanan darah," ujar Ahli Jantung di UC San Diego Health Pam Taub seperti dilansir dari Medical Xpress, Selasa (16/2/2021).

Taub mengatakan ketika dapat menurunkan detak jantung, pasien memiliki kemampuan untuk berdiri, sesuatu yang sulit dilakukan bagi penderita POTS.

Penelitian tersebut melibatkan 22 individu yang rata-rata berusia 32 tahun. Setiap peserta telah disaring dan direkrut dari klinik kardiologi di UC San Diego Health dari 2018 hingga 2020.

Studi ini menggunakan desain crossover acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo dimana pasien memulai dengan ivabradine atau plasebo selama satu bulan. Pada akhir bulan, semua peserta menjalani periode pembersihan di mana tidak ada obat atau plasebo yang diminum selama satu minggu. Setelah periode washout, peserta yang sebelumnya menerima ivabradine beralih ke plasebo dan sebaliknya selama satu bulan.

Selama dua bulan, pasien juga bertemu dengan peneliti untuk tujuh kunjungan klinik yang berbeda di mana kadar norepinefrin plasma diukur dan uji kemiringan kepala dilakukan untuk mengamati detak jantung pasien saat duduk, berbaring, atau berdiri.

Taub mengatakan sebelum penelitian, pasien ini akan hidup dengan detak jantung yang meningkat antara 100 hingga 115 detak per menit saat berdiri. "Setelah mengonsumsi ivabradine dua kali sehari selama satu bulan, denyut jantung saat berdiri menurun secara signifikan menjadi sekitar 77 denyut per menit dibandingkan dengan kelompok plasebo. Peserta juga melaporkan peningkatan kualitas hidup saat menggunakan obat tersebuzt," bebernya.

Para peneliti juga mencatat ivabradine dapat ditoleransi dengan baik tanpa efek samping yang signifikan, sementara obat lain yang digunakan untuk menurunkan detak jantung, seperti beta blocker, dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan tekanan darah.

Taub mengatakan penelitian ini adalah uji klinis acak pertama yang menggunakan ivabradine untuk mengobati POTS. POTS biasanya disebabkan oleh infeksi virus, trauma, pembedahan, dan paling sering menyerang wanita muda yang merupakan atlet atau sangat aktif. Saat ini, tidak ada pengobatan yang disetujui FDA untuk POTS dan kondisi tersebut dapat sangat memengaruhi kualitas hidup. Gejala lain dari POTS termasuk kabut otak, pusing, jantung berdebar, gemetar, lemah, penglihatan kabur, dan kelelahan.

Gejala Jangka Panjang Covid-19

Baru-baru ini, POTS telah diidentifikasi sebagai gejala potensial jangka panjang dari Covid-19.

"Dalam praktik kontemporer kami, kami melihat pasien yang sebelumnya telah terinfeksi Covid-19 hadir dengan gejala yang sesuai dengan POTS," kata Ahli Jantung di UC San Diego Health Jonathan Hsu.

Mengingat adanya kesamaan, penelitian ini mengarah pada pertanyaan apakah terapi dengan ivabradine dapat membantu pasien yang mengalami gejala serupa setelah infeksi Covid-19, dan memberikan area penting untuk penelitian di masa mendatang.

Para penulis mengatakan mereka berharap ivabradine akan dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan yang memungkinkan bagi mereka yang dikonfirmasi dengan diagnosis POTS. Saat ini, obat tersebut tidak disetujui FDA untuk penyakit ini dan bila digunakan secara klinis akan menjadi penggunaan di luar rekomendasi.

Taub menambahkan mirip dengan penderita Covid-19, penderita POTS perlu ditindaklanjuti dengan hati-hati. Perawatan untuk POTS perlu dipersonalisasi untuk setiap individu dan dengan obat ini, dipasangkan dengan terapi gaya hidup, termasuk latihan khusus untuk POTS. "Kami berharap kami akan melihat lebih banyak individu mengatasi kondisi yang tidak menguntungkan ini," pungkasnya.

Sumber : bisnis.com