Dokter: Covid-19 Perburuk Pengendalian Gula Darah Penyandang Diabetes

Ilustrasi Diabetes Melitus. Lebih dari 2/3 pasien diabetes pun tidak menyadari dirinya memiliki penyakit tersebut. - Istimewa
30 April 2021 06:47 WIB Fatkhul Maskur Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Penderita diabetes perlu waspada di tengah pandemi Covid-19. Sebab, orang dengan komorbid ini rentan terinfeksi virus tersebut dan bisa mengakibatkan pada kondisi buruk.

Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Profesor Ketut Suastika membeberkan 25-34 persen pasien yang dirawat di ICU dan non-ICU karena Covid-19 merupakan penderita diabetes.

"Selain itu Covid-19 memperburuk pengendalian gula darah penyandang diabetes," ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (29/4/2021).

Ketut juga mengatakan obat yang digunakan untuk Covid-19 bisa menaikkan gula darah. Oleh karena itu, di masa sekarang ini, penting bagi penderita diabetes mengendalikan gula darah dengan baik untuk mencegah komplikasi dan mengurangi keparahan akibat Covid-19.

"Kendalikan gula darah dengan baik, pemantauan gula darah lebih sering, diet dan nutrisi yang seimbang, tetap latihan fisik dan terapkan protokol kesehatan," tegas Ketut.

Baca juga: Hasil Survei: 50% Perusahaan di Indonesia Permanenkan Sistem Kerja dari Rumah

Sementara itu, penanganan diabetes masih menjadi tantangan. Pasalnya, prevalensi sindrome metabolik, pradiabetes, dan diabetes melitus pada orang dewasa tinggi dan cenderung meningkat.

Lebih dari 2/3 pasien diabetes pun tidak menyadari dirinya memiliki penyakit tersebut. "Sebagian besar mereka akan datang ke pelayanan kesehatan dengan komplikasi," tegasnya.

Dikatakan Ketut, angka komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular terkait diabetes akhirnya tinggi. Menurutnya, jika tanpa intervensi yang baik, maka kejadian prediabetes akan meningkatkan kejadian diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Tantangan lain adalah masih banyaknya pasien yang tidak patuh dalam menjalani terapi, sehingga lebih dari 2/3 pasien belum mencapai sasaran gula darah yang diinginkan.

Selain itu, pengelolaan diabetes dan komplikasinya membutuhkan biaya yang tinggi, padahal kata Ketut di satu sisi, anggaran pemerintah masih terbatas.

Sumber : bisnis.com