Jangan Seperti Zaman Dahulu, Ini Tips Mengasuh Anak di Era Digital Ala Kak Seto

Anak sehat. Anak itu, adalah peniru yang ulung, tentu perilaku orangtuanya akan mempengaruhi perilakunya. - Unicef
14 Juni 2021 08:37 WIB Rezha Hadyan Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pola asuh orang tua akan mempengaruhi karakter anak. Karenanya, banyak hal yang perlu dijadikan pertimbangan oleh orangtua sebelum memutuskan pola asuh seperti apa untuk buah hatinya.

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan yang harus dihadapi oleh orangtua dalam mengasuh anak juga makin berat. Pola asuh yang diterapkan oleh generasi terdahulu puluhan tahun silam tentunya sudah tidak relevan lagi.

Bahkan, menurut beberapa kajian ilmiah, pola asuh generasi terdahulu yang cenderung otoriter justru berdampak negatif pada kondisi psikologis anak. Tak jarang, dampak buruk dari pola asuh itu ikut terbawa hingga mereka dewasa.

Baca juga: Alasan Pria Bisa Mencintai dan Mengkhianati dalam Waktu Bersamaan

Psikolog anak yang juga Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengungkapkan pola asuh otoriter yang mana seluruh perintah orangtua harus dipatuhi tanpa terkecuali justru membuat anak tidak mandiri. Selain itu, anak juga menjadi pasif karena tidak berani mengungkapkan pendapatnya.

Selain itu, hingga dewasa anak yang diasuh secara otoriter punya kecenderungan untuk menyalahkan orang yang menyuruhnya meskipun mereka tak berani mengungkapkannya.

“Saat ini, memiliki anak yang patuh dan penurut itu tidak bisa dijadikan kebanggaan. Saat ini, anak yang mandiri dari pola asuh yang tepat jauh lebih baik,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Baca juga: Kenali Gejala dan Cara Penanganan Bipolar pada Anak!

Pola asuh permisif yang memberikan kebebasan penuh pada anak juga bukan jawaban, terlebih di era digital yang memberikan berbagai kemudahan bagi anak, termasuk saat mengakses informasi yang tidak sesuai atau kurang baik.

Pola asuh tersebut memang membuat anak mandiri lantaran diberikan kebebasan. Namun, di sisi lain tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang disiplin dan tak bertanggung jawab.

Karena sejak kecil dibebaskan oleh orangtua, mereka di masa depan berpotensi kurang pandai dalam mengambil keputusan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Lantas, pola asuh seperti apa yang tepat untuk diterapkan pada anak di zaman penuh kemudahan dan keterbukaan ini?

Menurut Kak Seto, pola asuh demokratis yang memberikan kesempatan bagi anak mengungkapkan pendapat dan mengekspresikan keinginannya adalah jawaban bagi orangtua di zaman kiwari. Pola asuh tersebut boleh dikatakan sebagai titik tengah di antara pola asuh otoriter dan permisif.

Anak diberikan kebebasan namun tetap memperhatikan rambu-rambu atau aturan dari orangtuanya. Tentunya aturan tersebut sudah dibicarakan sebelumnya oleh anak dan orangtua sebelum diterapkan.

“Pola asuh seperti ini juga harus diikuti oleh peran aktif orangtua berinteraksi dengan anak. Kemudian orangtua juga harus bisa memberikan contoh yang baik dalam berperilaku. Anak itu, adalah peniru yang ulung, tentu perilaku orangtuanya akan mempengaruhi perilakunya,” ungkapnya.

Orangtua juga dituntut untuk mampu memberikan penjelasan yang logis dan bisa diterima oleh anak ketika memberikan perintah atau menolak permintaan anak. Dengan adanya penjelasan tersebut nantinya anak bakal dengan senang hati menerima atau menjalankannya.

“Seperti saat ini, anak banyak yang bercita-cita jadi atlet e-sports atau YouTubers dan akhinya fokus bermain gadget, enggan belajar. Nah, orangtua di sini jangan hanya memarahi saja, zaman sudah berbeda. Berikan penjelasan kalau untuk mencapai cita-citanya itu tidak bisa hanya sibuk dengan gadget saja, harus belajar untuk punya kemampuan-kemampuan lain, sepeti kemampuan komunikasi,” tuturnya.

Pola pengasuhan yang dipaparkan di atas juga berlaku untuk anak dengan kondisi tertentu seperti hiperaktif dan anak berkebutuhan khusus. Namun, tentunya diperlukan sedikit penyesuaian sesuai dengan kondisi dari masing-masing anak.

Untuk anak berkebutuhan khusus, hal yang perlu ditegaskan adalah perlakukan mereka sebagai manusia utuh. Tetap ajarkan pada mereka hal-hal dasar dan norma-norma yang berlaku di masyarakat sebagai bekal bagi mereka ketika bergaul di masyarakat nantinya.

Sumber : Bisnis.com