SPF Tinggi di Tabir Surya Bukan Jaminan Perlindungan Kulit, Ini Penjelasan Pakar

Ilustrasi. - Freepik
17 Juni 2021 23:07 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Banyak orang terutama perempuan menggunakan tabir surya untuk membantu melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari dan dampak buruk sinar Ultraviolet atau sinar UV.

Paparan sinar UV berlebihan akan merusak sel kulit dan memicu penuaan dini hingga kanker kulit. Penggunaan tabir surya sangat tergantung dari kadar Sun Protection Factor (SPF) yang terkandung di dalamnya.

Banyak pakar yang menyarankan SPF 30 atau lebih jika menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan. Tapi yang perlu diingat jumlah SPF tinggi tidak menjamin terlindungi sepenuhnya dari sinar UV, seperti yang dijelaskan Director of Pigmented Lesions and Skin, Orit Markowitz, MD.

Baca juga: Simak 4 Pola Makan untuk Ginjal yang Sehat

Sebagai catatan, kebanyakan tabir surya diformulasikan untuk menangkal dua jenis sinar UV yakni UVA yang menembus lebih dalam ke kulit, menyebabkan flek hitam, dan penuaan dini.

Kedua, tabir surya menangkal UVB, penyebab kulit terbakar (sunburn) dan warna kulit berubah gelap.

"Saat jumlah SPF naik, maka perlindungan terhadap UVA turun akibat bahan pelindung dalam tabir surya yang berinteraksi, itulah sebabnya SPF 100 tidak direkomendasikan," ujar Markowitz mengutip Insider, Kamis (17/6/2021).

Sehingga bahan perlindungan UVA dan UVB dalam tabir surya bisa saling pro-kontra atau bertolak belakang, apabila SPF terlalu tinggi.

Baca juga: Simak Perbedaan Freediving, Snorkeling dan Scubadiving

Alih-alih menggunakan tabir surya dengan SPF tinggi, Yayasan Kanker Kulit atau Skin Cancer Foundation merekomendasikan SPF 15 sebagai pilihan terbaik untuk digunakan.

Kadar SPF tersebut sangat ideal digunakan saat Anda harus mengajak anjing berjalan-jalan atau bekerja sekilas di bawah sinar matahari.

Namun jika ingin melakukan kegiatan luar ruangan, seperti hiking atau berenang disarankan menggunakan SPF 30.

Sumber : Suara.com