Advertisement

Bahaya, Ancaman Long Covid-19 Bisa Terjadi Pada Anak-anak

Nindya Aldila
Senin, 28 Juni 2021 - 06:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Bahaya, Ancaman Long Covid-19 Bisa Terjadi Pada Anak-anak Covid-19 Varian Delta. - LIPI

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Pihak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan peringatan potensi terjadinya long Covid-19 pada anak dengan riwayat komorbid seiring dengan lonjakan kasus dan penanganan rumah sakit yang tidak optimal.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan menyampaikan, kondisi komorbid pada anak berbeda dengan orang dewasa, khusus anak, ini bisa terjadi karena adanya malnutrisi, obesitas, kelainan bawaan, TBC, cerebral palsy yang terkadang tidak terdeteksi.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Hal ini diperparah dengan kondisi rumah sakit yang penuh sehingga penanganan pasien anak tidak optimal.

“PCR kita hanya beberapa provinsi yang sesuai WHO. Lalu tidak transparansinya data anak di seluruh provinsi di seluruh Indonesia. Kalau kita tidak testing anak [dengan jumlah] banyak, kita takutnya ada gejala long Covid pada anak,” ungkapnya saat konferensi pers pada Minggu (27/6/2021).

Beberapa gejala long Covid kemungkinan akan muncul selama 4 - 8 bulan seperti lemah, susah konsentrasi, sesak, rambut rontok, nyeri sendi dan lainnya.

Jika penanganan bagi anak yang positif Covid-19 dengan gejala ringan cukup dengan isolasi mandiri dan memanfaatkan telemedicine, bagi anak dengan komorbid perlu berkonsultasi khusus ke fasilitas kesehatan agar tidak jatuh ke kondisi berat atau kematian.

Seperti diketahui, Indonesia menjadi negara dengan kematian dari kelompok anak-anak tertinggi dibandingkan negara lain. Kematian tertinggi akibat Covid-19 berasal dari kelompok balita hingga di atas 50 persen dan umur 10-18 tahun sebanyak 30 persen.

“Anak yang tertular Covid walaupun bergejala ringan bisa berkontribusi sebagai sumber penularan yang dapat meningkatkan risiko bagi anggota keluarga lain,” tandasnya.

Advertisement

Untuk itu, profesor di Universitas Indonesia ini mendukung pemberian vaksin Covid-19 kepada anak dan mendorong peningkatan jumlah testing pada anak dan remaja.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat agar kegiatan yang melibatkan anak usia 0-18 tahun diselenggarakan secara daring dan tidak membawa anak ketika keluar rumah, kecuali mendesak. Di saat yang sama, pemberian ASI juga harus terus diupayakan.

“Ini saatnya mengajarkan anak secara disiplin dan mematuhi protokol kesehatan. Tetap lengkapi imunisasi rutin.”

Advertisement

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Cerita Pelajar Gunungkidul Terseret Banjir, 1,5 Jam Berpegangan di Pohon Kayu Putih

Gunungkidul
| Rabu, 30 November 2022, 20:07 WIB

Advertisement

alt

Luhut Ingin Gilas Oknum yang Hambat Investasi Masuk Indonesia

News
| Rabu, 30 November 2022, 19:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement