WHO: Sudah Vaksin Lengkap, Pasien Covid-19 Delta Tak Alami Sakit Parah

Ilustrasi pasien yang terinfeksi Covid-19 mengalami sesak napas saat isolasi mandiri di rumah - Freepik.com
13 Juli 2021 13:17 WIB Janlika Putri Indah Sari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) menyatakan sebagian besar orang yang telah divaksinasi lengkap dan terinfeksi Covid-19 varian Delta tidak menunjukkan gejala parah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka yang terinfeksi Covid-19 namun telah vaksinasi menghasilkan virus jauh lebih sedikit daripada mereka yang tidak divaksinasi. Dengan begitu, mereka yang sudah di vaksinasi akan mengurangi risiko menularkan virus ke orang lain.

Orang yang divaksinasi penuh terhadap Covid-19 masih terinfeksi varian delta, tetapi pejabat WHO mengatakan bahwa suntikan itu telah melindungi sebagian besar orang dari sakit parah atau kematian.

Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, infeksi terobosan jarang terjadi, dan sekitar 75 persen orang yang meninggal atau dirawat di rumah sakit karena Covid-19 setelah vaksinasi berusia di atas 65 tahun.

“Varian delta menyebar di seluruh dunia dengan kecepatan tinggi, mendorong lonjakan baru dalam kasus dan kematian. Namun, tidak semua tempat menerima pukulan yang sama,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Baca juga: Ini 5 Kebiasaan Sederhana Agar Rumah Anda Tetap Bersih dan Rapi

“Kami berada di tengah-tengah pandemi dengan dua jalur yang berkembang. Di mana si kaya dan si miskin di dalam dan antar negara semakin berbeda di tempat-tempat dengan cakupan vaksinasi yang tinggi," ujarnya.

Varian ini menyebar dengan cepat dan menginfeksi orang yang tidak terlindungi dan rentan, katanya.

Ilmuwan WHO Sounya Swaminathan memperingatkan bahwa orang yang divaksinasi masih bisa tertular Covid-19 dan menularkannya kepada orang lain, itulah sebabnya pejabat WHO mendesak orang untuk terus memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial.

"Tapi tentu saja itu mengurangi kemungkinan rawat inap dan kematian yang parah secara signifikan," tambahnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka yang terinfeksi Covid-19 setelah vaksinasi menghasilkan lebih sedikit virus daripada mereka yang tidak divaksinasi, sehingga mengurangi risiko menularkan virus ke orang lain.

Pejabat WHO mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami dampak vaksin terhadap penularan.

Sumber : bisnis.com