Stres Pekerjaan pada Wanita Tingkatkan Risiko Kardiovaskular

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
01 September 2021 23:27 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Stres yang merupakan gangguan mental bisa berdampak pada fisik seseorang. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa stres di tempat kerja menyebabkan lonjakan pada jantung. Hal ini yang kemudian bisa menjadi penanda penyakit jantung.

Melansir dari Independent, para peneliti menemukan stres terkait pekerjaan, gangguan tidur, dan kelelahan melonjak lebih tajam di kalangan wanita daripada pria.

Studi yang dipresentasikan pada Konferensi Organisasi Stroke Eropa tersebut menunjukkan bahwa proporsi pria dan perempuan yang melaporkan stres di tempat kerja meningkat dari 59 persen pada 2012 menjadi 66 persen pada 2017.

Baca juga: Tips Cara Melepaskan Pasangan Toxic, Walau Anda Masih Cinta

Sementara mereka yang merasa kelelahan naik dari 23 persen menjadi 29 persen dalam periode waktu ini. Tetapi perempuan jauh lebih mungkin untuk melaporkan malam tanpa tidur dan kelelahan.

Sementara jumlah pria dan wanita yang melaporkan gangguan tidur meningkat dari 24 persen menjadi 29 persen pada periode ini, dengan gangguan tidur parah juga meningkat lebih tajam pada wanita daripada pria.

Para peneliti mencatat peningkatan ini mengkhawatirkan karena bisa terkait dengan penyakit kardiovaskular.

Baca juga: Orang Pintar & Jenius Suka Lakukan Kebiasaan Ini

Dr Susanne Wegener, salah satu penulis studi tersebut mengatakan bahwa diabetes, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, aktivitas fisik, dan hipertensi arteri merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular.

"Tetapi baru-baru ini telah ditunjukkan bahwa faktor risiko yang kurang konvensional seperti tekanan kerja dan masalah tidur dapat secara substansial meningkatkan risiko kardiovaskular," kata Dr Wagner, seorang profesor neurologi di University of Zurich.

"Secara tradisional pria dianggap lebih terpengaruh oleh serangan jantung dan stroke daripada perempuan, tetapi di beberapa negara, perempuan telah menyusul pria. Ada kesenjangan gender dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui alasannya," imbuhnya.

Sumber : Suara.com