Waspadai Zoom-fatigue, Kelelahan Akibat Terlalu Lama Konferensi Video 

Ilustrasi, burnout karena banyak jadwal zoom meeting akibat work from home (WFH) - Freepik
20 Oktober 2021 06:17 WIB Dinda Aulia Ramadhanty Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hidup beriringan dengan pandemi Covid-19 dapat dilihat dari banyaknya peralihan berbagai aktivitas luar menjadi online, dimana menjadi aktivitas normal yang baru, namun dapat berdampak merasa kewalahan, dan lelah. 

Studi pengalaman mengambil contoh dari seorang direktur perusahaan LQ Pacific Partners Hongkong, Stephani Ko yang mengalami insomnia dan kegelisahan karena terlalu banyak melakukan panggilan Zoom. 

Melansir pada situs scmp.com, Selaas (19/10/2021) Stephanie Ko mendapati dirinya harus menjalani karantina dua pekan di Shanghai, China. Akhirnya ia menjadwalkan lebih banyak total panggilan video selama pandemi Covid-19.

BACA JUGA : KBS Lewat Youtube dan Zoom Dimaksimalkan saat Pandemi 

Stephanie yang memiliki tuntutan pekerjaan melakukan banyak perjalanan atas kepentingan pekerjaan, tidak menyukai gagasan 14 hari dalam isolasi mandiri. 

“Dua minggu itu sangat sepi, dan sebagai solusinya. Saya telah memiliki jadwal sekitar enam hingga delapan panggilan video dalam sehari,” ungkapnya. 

Terdapat hari-hari dimana Stephanie akan bangun jam 4 pagi untuk bersiap-siap rapat pada jam 6 pagi dan setelah itu tidak berhenti menerima telepon sampai setelah jam 7 malam. Hal tersebut kemudian berdampak pada kesehatannya, termasuk memengaruhi kualitas tidurnya.

Stephanie mengakui, "Saya biasanya tertidur dalam beberapa menit, tetapi saya akan merasa gelisah kemudian dan menderita insomnia yang bertahan selama berjam-jam,” jelasnya. 

Konferensi video memungkinkan setiap individu untuk tetap bekerja, belajar, dan bersosialisasi selama pandemi. Videoconferencing telah menjadi norma wajib bagi seluruh elemen di dunia. 

Tetapi disampaikan oleh peneliti bahwa menatap layar yang penuh dengan kepala dengan durasi waktu lama dalam sehari dapat merusak mental dan fisik. Bahkan ada nama untuk apa yang dialami Stephanie sebelumnya, yaitu Zoom-fatigue (Kelelahan karna Zoom). 

Seorang direktur pendiri Virtual Human Interaction Lab di Universitas Stanford California, Profesor Jeremy Bailenson telah mengamati efek teknologi pada perilaku manusia selama lebih dari satu dekade terakhir. 

Dalam penelitiannya bersama peneliti lain telah menganalisis Zoom-fatigue, yang disebabkan oleh segala jenis konferensi video dan dampaknya pada kesehatan mental dan fisik. 

Pada hasil studi mereka yang diterbitkan pada bulan September di jurnal Computers in Human Behavior Reports menggambarkan kondisi tersebut sebagai keadaan perasaan kewalahan, terkuras dan habis. 

Pendiri Lifespan Counseling di Hong Kong, Dr Michael Eason mengungkapkan, "Salah satu keluhan paling umum di antara klien saya adalah tidak ada lagi batasan yang jelas antara kehidupan kerja dan kehidupan rumah," jelasnya.

BACA JUGA : Perkembangan Teranyar Zoom, Ada Rangkaian Emoji Lengkap 

Selanjutnya, para peneliti menemukan bahwa ada faktor-faktor yang berkaitan dengan konferensi video yang akhirnya menyebabkan kelelahan ini salah satunya intens menerima isyarat non verbal yang memiliki arti khusus karena kondisi yang berbeda antara tatap muka dan di Zoom. 

“Dalam interaksi tatap muka, komunikasi non-verbal mengalir secara alami dan kita jarang menyadarinya, tetapi tidak demikian halnya ketika kita online untuk panggilan video. Pengguna terus-menerus menerima isyarat non-verbal yang akan memiliki arti khusus dalam konteks tatap muka tetapi memiliki arti yang berbeda di Zoom," imbuhnya. 

Untuk mengambil contoh pada panggilan Zoom, orang cenderung melakukan kontak mata untuk waktu yang lebih lama daripada dalam situasi tatap muka. 

Panggilan konferensi video sering kali dapat membuat peserta merasa seolah-olah mereka didorong ke dalam lingkungan yang penuh sesak, bahkan terjebak secara fisik. Peserta tampak langsung menatap mata, baik sedang berbicara atau tidak. 

Selain isyarat non verbal, panggilan video yang terlalu lama juga membawa kelelahan mental dan visual yang lebih besar, dimana menjadi suatu kondisi yang sangat sulit bagi para introvert. 

Hal tersebut disampaikan oleh seorang rekan penulis studi, Anna Queiroz. “Tingkat kelelahan Zoom lebih rendah karena peserta melaporkan tingkat ekstroversi dan stabilitas emosional yang lebih tinggi,". 

Selanjutnya, beberapa ahli kesehatan mental telah mengamati bahwa ruang kecil dapat menjadi pemicu untuk memperburuk kondisi. 

Faktor tersebut didukung oleh pernyataan seorang psikoterapis dan konselor di OT&P Healthcare dan Rethink The Couch di Hong Kong, Allison Heiliczer terkait kliennya. 

"Karena ruang tinggal yang kecil di Hong Kong, ditambah dengan home schooling, dan perlu beralih dari satu panggilan konferensi video ke panggilan berikutnya, pasti ada kelelahan Zoom yang saya perhatikan dengan klien," mengutip pada scmp.com (19/10/2021). 

Ketika keluhan kelelahan Zoom muncul, berarti penting untuk menilai tingkat keparahan situasi seperti tingkat pengaruhnya terhadap fungsi sehari-hari, gangguan yang dialami seperti depresi klinis, serangan panik, dan atau pengaruhnya akan hubungan dengan teman dan anggota keluarga. 

Eason menjelaskan banyak kliennya yang tidak memiliki garis pembatas lagi antara pekerjaan dan waktu istirahat, yang menyebabkan klien terpaksa harus selalu siap 24/7. 

"Harapan yang tidak realistis dan tidak terkendali seperti itu mampu menyebabkan kelelahan fisik dan emosional tingkat tinggi yang dapat mengakibatkan kelelahan total,” pungkas Eason.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia