7 Kebiasaan Ini Bisa Membantu Atasi Dampak Polusi Udara

Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7/2019). Berdasarkan data "Air Quality Index" pada Senin (8/7/2019) tingkat polusi udara di Jakarta berada pada angka 154 yang menunjukkan bahwa kualitas udara di Ibu Kota termasuk kategori tidak sehat. - ANTARA/M Risyal Hidayat
06 Agustus 2019 04:47 WIB Tika Anggreni Purba Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Jakarta menjadi salah satu kota dengan tingkat polusi yang tinggi. Menurut data World Health Organization (WHO),sejumlah kota lainnya yakni New Delhi, Mexico City, Dhaka, dan Beijing.

Jamal Zaini, dokter spesialis paru & pernapasan konsultan onkologi paru dan mediastinum RS Pondok Indah-Pondok Indah Jakarta mengatakan bahwa idealnya pemeriksaan atau pemantauan polutan di suatu kota dilakukan dengan menggunakan alat terstandarisasi, dilakukan rutin, dan didapatkan data rata-rata tahunan.

Selain itu wajib diketahui pula polusi udara dipengaruhi oleh berbagai faktor baik lingkungan, alam, cuaca maupun aktivitas manusia.

Data resmi pemerintah tentang polusi udara di Indonesia dipegang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta BMKG. Data lain mengenai polusi yang cukup baik adalah seperti dari Kedutaan Amerika di Jakarta.

“Sebagian besar publikasi ilmiah mengenai polusi udara dan kesehatan berasal dari negara maju. Sedangkan data dari negara berkembang belum bervariasi dan masih jarang,” ujar Jamal.

Dia menyoroti bahwa mitigasi polusi udara di negara berkembang belum menjadi perhatian, sehingga sebagian data negara berkembang yang dipublikasi banyak berasal dari data modelling atau perhitungan/prediksi dan dari sumber non-pemerintah.

Menurutnya mitigasi polusi udara adalah langkah awal dan menjadi tugas bersama antara pemerintah, ahli lingkungan-teknis, dan ahli kesehatan untuk menilai besaran masalah dan melakukan analisis.

“Mari kita mulai dengan data dan penelitian yang baik karena pada akhirnya untuk mengatasi polusi udara diperlukan komponen multidisiplin,” ujarnya.

Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat polusi udara, Jamal menyarankan untuk melakukan beberapa kebiasaan berikut ini:

·         Lakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS), terutama hindari atau stop kebiasaan merokok.

·         Jika berolahraga, hindari daerah dengan polutan tinggi seperti jalan utama.

·         Makan makanan sehat dan teratur dan perbanyak konsumsi buah juga sayuran.

·         Pada saat polusi sangat ekstrem (misalnya saat kebakaran hutan), jangan lakukan aktivitas di luar rumah.

·         Hindari sumber utama atau daerah berpolusi tinggi.

·         Pada kelompok rentan (pasien asma/PPOK, pasien sakit jantung), jangan lupa persiapkan obat rutin dan melakukan kontrol rutin ke dokter Anda.

·         Mulailah kurangi emisi polutan dari diri sendiri jika memungkinkan, misalnya mengurangi waktu menggunakan kendaraan pribadi.

Sumber : Bisnis.com